Minggu, 23 November 2014
Tribun Jateng

Ikatan Apoteker Indonesia Tuntut Yuli Bebas

Sabtu, 11 Agustus 2012 13:01 WIB

Ikatan Apoteker Indonesia Tuntut Yuli Bebas
Ikatan Apoteker Indonesia
TRIBUNJATENG.COM SEMARANG,  - Kasus kriminalisasi profesi apoteker yang menimpa  Yuli Setyarini (30) warga Kauman, Semarang Tengah, membuat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Tengah bergerak. Menjelang sidang putusan pada Rabu (15/8./2012) mendatang, IAI Jawa Tengah mengadakan rapat luar biasa dengan anggota IAI sejateng.

"Kami meminta saudara Yuli dibebaskan murni," kata ketua IAI Jawa Tengah Jamaludin di aula Avicena Pt Phapros, Sabtu (11/8/2012).

Ia menolak secara tegas kriminalisasi profesi apoteker karena apoteker adalah profesi yang dilindungi undang-undang. Hasil pemeriksaannya kepada Yuli, pihaknya tidak menemukan pelanggaran yang dilakukan. Tuduhan penggelapan dan pencurian kepada Yuli baginya tidak beralasan.

Ia meminta agar majelis hakim memutuskan dengan seadil-adilnya. Jika putusan tidak sesuai harapannya, pihaknya akan terus mendampingi Yuli di proses hukum yang dijalani anggotanya.

Awal kasus Yuli Setyarini itu terjadi ketika pemilik apotik Dirgantara, Ngaliyan, Wiwik dan Yulis melakukan perjanjian kerjasama pada 29 Mei 2010. Isinya tentang hak dan kewajiban apoteker menerima resep obat dan mengamankan/menyimpan obat-obatan.
 
Pada 1 Desember 2010, Yuli mengambil  dalam dus yang berisi obat jenis narkotika dan psikotropika.Lalu, ia menyerahkannya ke  Dinas Kesehatan Kota Semarang karena merasa tidak memesan obat-obatan keras  yang memerlukan ijin itu.
 
Langkah itulah yang dipermasalahkan. Menurutnya, hal itu tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama karena tidak memberi tahu pemilik apotik. Wiwik yang tersinggung langsung lapor ke Polsek Ngaliyan dengan  tuduhan pencurian atau penggelapan barang yang menyebabkan kerugian  Rp2.213.675 serta didakwa dengan pasal 374 KUHP.

Yuli menjelaskan perbuatannya  dalam rangka mengamankan karena sebagai apoteker ia tahu apotiknya tidak dalam kapasitas menyimpan obat itu. Selain itu, apotik tempatnya bekerja sudah pernah teguran karena kasus yang sama pada 7 November 2010.

"Setelah itu yang menangani dinas hingga apotik itu ditutup resminya pada 19 Januari 2011 dan menjadi apotik baru atas nama anaknya," kata Yuli.

Pada 13 Agustus 2011, Wiwik  melaporkannya ke polsek Ngaliyan. Kuasa hukum terdakwa, Bambang Joyo Supeno menumkan hal yang janggal yaitu surat perintah SP3 dari Polda berdasarkan gelar perkara tidak digubris oleh polsek Ngaliyan.

"Tidak hanya itu, berkas-berkas klien kami tentang etika apoteker yang menjadi dasar pengamanan itu ke dinas kesehatan juga tidak dicantumkan oleh pihak polsek Ngaliyan. Saat ini ada anggota polsek ngaliyan yang diproses di Polda," katanya.(bbb)

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas