• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 22 September 2014
Tribun Jateng

Kompolnas Selidiki Penangkapan Teroris Di Solo

Rabu, 5 September 2012 18:00 WIB
Kompolnas Selidiki Penangkapan Teroris Di Solo
Kompolnas logo
Laporan wartawan Tribun Jogya / Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJATENG .COM SOLO,  - Pasca peristiwa teror penembakan terhadap polisi yang diakhiri penangkapan para terduga teroris oleh Densus 88, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendatangi Solo. Kedatangan mereka untuk menginvestigasi peristiwa yang menewaskan polisi dan terduga teroris itu. Hasil temuan selanjutnya akan dijadikan rekomendasi kepada Kapolri untuk melakukan perbaikan.

Ada dua komisioner Kompolnas yang datang, yakni Edi Saputra Hasibuan dan Hamidah Abdurrahman. Sekitar pukul 08.30, keduanya tiba di Polresta Solo. Di polres, mereka menemui Kapolres Kombes Pol Asdjima’in sebelum melihat ke lokasi penembakan. "Kedatangan kita ke Solo untuk mengumpulkan data-data terkait teror penembakan pada polisi dan penangkapan Densus terhadap terduga teroris," kata Edi Saputra, Rabu (5/9/2012).

Setelah melakukan pertemuan tertutup dengan Kapolres, tim Kompolnas lalu mendatangi Pos Polisi Singosaren. Saat tiba, pos yang pernah menjadi sasaran penembakan teroris yang mengakibatkan Bripka Dwi Data Subekti tewas ini tutup. Komisioner Kompolnas lantas melihat-lihat kondisi pos dan meminta penjelasan dari polisi yang mendampingi. Mereka berlanjut ke rumah sakit PKU Muhammadiyah untuk melihat kondisi  Bripka Endro Mardiyanto, korban penembakan Pospam Gemblekan yang masih menjalani perawatan.

Rencananya, komisioner Kompolnas tersebut akan mengunjungi Wiji Siswo Suwito, mertua terduga teroris Bayu Setiono, yang mengalami penganiayaan oleh Densus 88. Namun rencana itu batal dilakukan karena suatu hal. Hamidah Abdurrahman, komisioner Kompolnas menambahkan, setelah melihat kondisi di lapangan, ada tiga catatan penting bagi polisi. Pertama, seharusnya para aparat yang betugas di lapangan harus dilengkapi senjata api. "Jangan sampai pas ada peristiwa kriminal atau ancaman, polisi tak bawa senjata. Kalau seperti itu jelas bahaya," katanya.

Sehingga, ia akan meminta kepada Mabes Polri agar peralatan para aparat di lapangan yakni senjata, CCTV, dan peralatan lain harus dilengkapi. Kedua, masih lemahnya intelejen dalam mengendus pergerakan para teroris. Akibatnya, polisi kebobolan hingga terjadi teror sebanyak tiga kali di Solo. "Kinerja intelejen harus ditingkatkan, masih sangat lemah. Kalau kecolongan sampai tiga kali itu jelas sebuah catatan buruk," kata Hamidah.

Ketiga, anggota Densus yang dianggap menyalahi prosedur penangkapan hingga mengakibatkan mertua Bayu, Wiji Suwito mengalami luka robel harus diproses jika memang melanggar. Apalagi, Wiji hanyalah kakek tua berusia 56 tahun yang tak berdaya. Akibat salah tangkap, Wiji mendapat pukulan hingga harus mendapatkan lima jahitan di wajah. "Jika ditemukan ada pelanggaran, anggota Densus harus diproses oleh Propam Mabes Polri. Kita masih mencari data apakah tindakan tersebut termasuk pelanggaran HAM," katanya. (dik)
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
8993 articles 92 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas