FOCUS
Kambing Hitam di Laut
Setengah jam setelah api berkobar, seluruh penumpang sudah berada di dalam sekoci. Demikian pula kru kapal tersebut.
Penulis: abduh imanulhaq | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUNJATENG.COM - Kecelakaan laut terjadi lagi. Kali ini menimpa KM Dharma Kencana II rute Semarang-Pontianak.
Kapal yang membawa ratusan penumpang dan puluhan kendaraan itu terbakar pada Minggu dini hari di perairan Karimunjawa, Jepara. Beruntung tak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.
Sebanyak 149 penumpang dan 17 anak buah kapal selamat. Mereka berhasil dievakuasi ke sebuah kapal yang tengah berlayar ke Kumai, Kalimantan Tengah.
Setengah jam setelah api berkobar, seluruh penumpang sudah berada di dalam sekoci. Demikian pula kru kapal tersebut.
Acungan jempol layak kita berikan kepada nakhoda dan anak buah KM Dharma Kencana II. Berkat kesigapan mereka, nyawa seluruh penumpang terselamatkan.
Keberadaan alat penyelamatan yang memadai ikut meringankan beban para petugas itu. Namun, kesiapan mereka mengantisipasi musibah merupakan faktor utama selamatnya penumpang.
Belum hilang di ingatan kita, musibah yang menimpa KM Mutiara Sentosa I pada pertengahan Mei silam. Kapal yang melayani rute Surabaya-Balikpapan ini terbakar di perairan Massalembu, Sumenep.
Ketika itu, lima orang meninggal dan puluhan lainnya hilang. Kemudian diketahui, jumlah penumpang melebihi manifes.
Persis pada hari pertama tahun ini, KM Zahro Ekspress terbakar di perairan Teluk Jakarta. Sebanyak 23 penumpang meninggal, menyisakan luka mendalam bagi keluarga.
Jumlah penumpang sesungguhnya Zahro Ekspress pun tak sesuai manifes. Kementerian Perhubungan menyatakan ketidaksesuaian data ini sebagai kesalahan prosedur.
Kecelakaan laut jelas memberi kesan dan respons lebih dramatis daripada musibah di darat. Tak ubahnya kecelakaan pesawat terbang, musibah yang menimpa kapal laut membangkitkan keserentakan reaksi yang mendorong keingitahuan.
Mudah dipahami begitu mendengar kecelakaan yang menimpa moda transportasi laut, pertama terbetik di benak sebagian orang adalah manifes penumpang. Kesesuaian data antara jumlah penumpang tercatat dan terangkut bisa saja berbeda.
Bahkan selisihnya bisa sangat mencengangkan karena begitu jauh. Pada akhirnya, ketidaksesuaian data itu menjadi kambing hitam karena terjadi kelebihan penumpang alias over-kapasitas.
Masalah kelebihan penumpang atau muatan itu tak hanya terjadi di pelayaran non-tradisional. Pelayaran rakyat yang menggunakan kapal-kapal kayu pun mengalaminya.
Tentu ada banyak opsi yang diambil pemerintah dalam meminimalkan kecurangan ini. Pengawasan ticketing dan pengecekan manifes penumpang secara ketat satu di antaranya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/abduh-imanulhaq-atau-aim-wartawan-tribun-jateng_20170825_072028.jpg)