Home »

Jawa

Ngopi Pagi

Rasa yang Hilang

APA! Reaksi spontan itu yang penulis alami ketika membaca berita kematian seorang guru karena dipukuli siswanya pada Jumat (2/2) kemarin

Rasa yang Hilang
Guru SMAN 1 Torjun, Sampang, Ahmad Budi Cahyono yang tewas di tangan muridnya. (surya/istimewa) 

TRIBUNJATENG.COM - APA! Reaksi spontan itu yang penulis alami ketika membaca berita kematian seorang guru karena dipukuli siswanya pada Jumat (2/2) kemarin. Guru itu bernama Ahmad Budi Cahyono (27). Seorang guru honorer yang mengajar mata pelajaran Seni Rupa di kelas IX di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura.

Kronologis singkatnya, Budi menegur si siswa berinisial MH yang menakali temannya dengan mencorat-coret lukisan. Guru idola para siswa itu pun mengingatkan dengan mencoret pipi sang sang murid dengan cat air. Tak terima, sang murid balik memukul kepala gurunya. Hingga Budi pulang, kondisinya baik-baik saja. Tapi saat sampai rumah, Budi yang istirahat mendadak kesakitan di bagian leher hingga koma dan meninggal.

Penulis pun kembali mengingat masa-masa saat duduk di bangku SD, SMP dan SMA di kota Semarang beberapa tahun silam. Penulis bukan termasuk anak yang nakal, tapi kebetulan sering duduk di bangku belakang, tempat para gali (preman-preman) cilik biasa duduk.

Bagi kami, para pelajar zaman old, nakal itu biasa. Nakalnya para pelajar di zaman penulis masih berseragam putih merah hingga putih abu-abu merupakan hal lumrah.

Gali kecil waktu itu biasa bolos, tidur di kelas hingga ribut sendiri saat pelajaran. Tak jarang, antarpelajar bertengkar tapi secara elegan di luar sekolah. Saling tantang. Tapi begitu sudah bertengkar justru jadi teman akrab.

Senakal-nakalnya lingkungan penulis saat itu, masih ada 'rasa' segan dan hormat pada sosok seorang guru. Tak pernah sekalipun kami melawan sosok guru saat diingatkan, apalagi ketika tahu yang salah memang diri ini. Entah kenapa, setiap kali ada guru marah, hal pertama yang terbersit di benak penulis waktu itu adalah ini salah kami yang memang ribut saat pelajaran. Ada kesadaran yang dimiliki meski punya kelakuan senakal apapun.

Ada satu momen saat kelas IV SD yang penulis ingat hingga sekarang. Ketika itu, saat wali kelas penulis, pak Nur, memberi pelajaran, tak ada satupun yang memperhatikan. Beberapa kali diingatkan, kami kembali ramai. Hingga pada puncaknya, pak

Nur marah besar dan bilang: "kalau tidak mau diajar ya sudah!". Beliau pun lalu pergi meninggalkan kelas menuju perpustakaan kecil di pojok sekolah. Sontak, seisi kelas langsung hening. Bingung dengan kepergian guru. Lalu, kelas pun kembali ramai. Tapi kali ini membahas bagaimana cara agar pak Nur kembali mengajar.

Diskusi ala parlemen sesuai UUD 45 dengan musyawarah mufakat pun muncul. Kami, para murid sepakat mendatangi pak Nur ke perpustakaan. Lalu, satu per satu meminta maaf dan meminta beliau kembali ke kelas untuk mengajar. Tentunya, dengan tangisan ala bocah-bocah ingusan kala itu.

Rasa hormat dan menyadari diri rasa bersalah itu yang tak ditemukan penulis dalam kasus di Madura itu. Tak hanya sekali ini berita murid pukul guru muncul. Contoh lainnya adalah kejadian murid pukul guru di Bima pada 2011.

Kemudian pada Juni 2017, seorang murid menganiaya guru honorer di di ruang kelas 10 sosial 1 SMA Negeri 1 Kubu, Jalan Suparto II, Desa Kubu Raya, Kalimantan Tengah. Yang lebih parah, ternyata di dunia maya ada developer game yang membuat permainan 'Pukul Guru Anda'. Dari judulnya pasti sudah bisa tertebak inti permainannya.

Banyak pertanyaan yang bergelayut di benak ini. Konon kata pemerintah, sistem saat ini mengedepankan pendidikan karakter. Tapi kok banyak muncul peristiwa kekerasan hingga kriminal yang dilakukan remaja usia pelajar? Jadi penasaran, karakter seperti apa yang dimaksud? Lalu, sistem pendidikan apa yang pas untuk bangsa yang sangat beragam ini? Mengapa rasa segan serta hormat pada guru memudar?

Di dunia maya, kini para netizen sedang ramai membandingkan pendidikan 1990-an dan zaman now untuk menjawab hal itu. Tapi yang muncul justru perdebatan berujung saling nyinyir. Nah, kira-kira siapa yang bisa menjawab permasalahan pendidikan bangsa ini? Mungkin bisa jadi salah satu pertanyaan yang diajukan ke para calon gubernur dan calon presiden di tahun politik ini. (*)

Penulis: bakti buwono budiasto
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help