Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

TAJUK:Bancakan Zaman Now

zaman now sepertinya tak lagi mengenal bacakan dalam artis sebenarnya. Apalagi tradisi itu sudah jarang digelar di kampung-kampung.

Penulis: sujarwo | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sujarwo

Wartawan Tribun Jateng

GENERASI zaman now sepertinya tak lagi mengenal bacakan dalam artis sebenarnya. Apalagi tradisi itu sudah jarang digelar di kampung-kampung..

Bancakan, harafiahnya berartri selamatan atau kenduri, mengandung filosofi luhur. Dulu, bancakan sering dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat untuk memperingati hari ulang tahun atau kelahiran anak.

Bancakan umumnya terdiri dari nasi, aneka lauk, lalapan dan sambal dalam jumlah tertentu. Nasi beserta lauk dialasi dengan daun pisang. Selain nasi putih, banyak juga yang menggunakan nasi liwet dengan paduan ikan teri dan potongan petai.

Bagi masyarakat Jawa dulu, bancakan sebagai sarana menyampaikan petuah dan ajaran tentang hidup. Semisal tujuh (pitu) macam sayuran sebagai bagian manu wajib sajian bancakan, sebagai simbol harapan adanya pitulungan (pertolongan) dari Tuhan. Kacang panjang dan kangkung harus tetap apa adanya (tidak diiris), sebagai simbol panjang rezeki, panjang umur, panjang usus (sabar), panjang akal.

Telur ayam juga harus berjumlah 7 atau 11. Tujuh sebagai simbol (pitulungan) dan sebelas sebagai simbol (lawelasan). Telur merupakan asal muasal terjadinya makhluk hidup, dengan adanya telur dalam uba rampe. Bancakan, diharapkan manusia selalu eling sangkan (ingat akan asal muasalnya).

Masih banyak makna luhur lain dalam bancakan yang disimbolkan di tiap menu sajiannya. Sayangnya, bancakan itu kini lebih dikenal dengan makna kebalikan dari yang luhur. Erosi makna bancakan seiring “tradisi” itu marak digelar di pusat-pusat kekuasaan. Dalam arti tradisi bancakan duit rakyat.

Ya, bancakan korupsi makin mentradisi di negeri ini. KPK tak henti mengungkap kasus yang juga populer dengan sebutan korupsi berjamaah itu. Contoh paling gamblang, dugaan korupsi e-KTP. Nyanyian mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, mengundang kejutan demi kejutan. Sejumlah elite politik disebut-sebut menerima bancakan uang e-KTP.

Itu di tingkat pusat, Di daerah, kabar terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan 38 anggota DPRD Kota Sumatera Utara periode 2009-2014 dan 2014-2019 sebagai tersangka kasus suap. Mereka diduga menerima suap berupa hadiah atau janji dari mantan Gubernur Provinsi Sumut, Gatot Pujo Nugroho, terkait fungsi dan kewenangan sebagai anggota legislatif

Sebelum-sebelumnya, bancakan korupsi tak sedikit terjadi. Dan, 2018 ini yang imenjadi tahun Pilkada serentak dengan jumlah daerah terbanyak. Sebanyak 574 pasangan calon kepala daerah di 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Tak ayal, Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Yenny Sucipto, misalnya, mengingatkan tahun ini selayaknya diwaspadai menjadi momentum bancakan korupsi.

Mengutip cendekiawan muslin, Ibn Khaldun, bahwa yang mendorong manusia melakukan korupsi adalah “nafsu untuk hidup mewah dalam kelompok yang memerintah”.Dari sini banyak yang mengartikan, praktik korupsi tak selalu berkaitan dengan hal berkekurangan. Dengan demikian, bancakan zaman now ini pun jadi bermakna sebagai tradisi yang tidak menyukuri. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved