Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

TAJUK: Tir Mahathir!

Mahatir bukan sebuah nama. Gabungan dua kata, maha (besar) dan tir atau buah catur (benteng, gajah), Boleh juga mahatir diartikan benteng

Penulis: sujarwo | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sudjarwo

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Mahatir bukan sebuah nama. Gabungan dua kata, maha (besar) dan tir atau buah catur (benteng, gajah), Boleh juga mahatir diartikan benteng yang besar, atau benteng kokoh.

Lain lagi dengan Mahathir. Ini nama politsi kawakan dari Negeri Jiranb yang sedang jadi perhatian dunia. Tokoh berusia 92 tahun yang kembali ke kancah politik seusai mengundurkan diri pada Oktober 2003, setelah 22 tahun memerintah Malaysia, kini kembali menjadi penguasa Malaysia.

Mahathir Mohamad, nama lengkapnya, mengagumkan bukan hanya sebagai pemimpin tertua di dunia. Tapi ia begitu cantik memainkan percaturan politik. Ia “turun gunung" dengan langkah lurus dan tepat, bak benteng catur yang bisa empat arah dan tidak miring.

Mahathir kembali ke kancah politik bukan memperkuat benteng koalisi Barisan Nasional, kendaraan politik Perdana Menteri Najib Razak. Padahal ia pernah menjadi mentor Najib. Mahathir kini justru sebagai benteng oposisi dengan gerakan reformasinya.

Mahathir menyebut kembali ke kancah politik karena tidak mampu mengabaikan praktik korupsi yang merajalela di negaranya. "Saya tak pernah mengira putra perdana menteri yang tersohor mau menjadi pencuri. Dan ini adalah tuduhan dari Departemen Kehakiman AS, bukan kita yang mengatakan demi politik, tidak," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Langkah catur politik Mahathir pun meluluhkan hati Nurul Izzah Anwar. Nurul jadi merasa optimistis berkolaborasi dengan sosok yang menjebloskan ayahnya, Anwar Ibrahim, ke sel penjara pada 1999 lalu itu..

Mahathir dan Anwar dulu berstatus sebagai perdana menteri dan wakil perdana menteri sebelum Anwa kemudian dipecat pada 1998 dan dituduh melakukan korupsi. Awar lantas memulai gerakan Reformasi dan membentuk Partai Keadilan Rakyat (PKR)—parpol yang semula dimaksudkan sebagai gerakan melengserkan Mahathir.

Mahathir berbalik melawan Najib menyusul skandal yang diduga melibatkan Najib terkait dengan perusahaan investasi milik pemerintah bernama 1Malaysia Development Berhad (1MDB) senilai miliaran dolar. Mahathir pun memakai atribut PKR guna bersaing melawan Barisan Nasional—koalisi berkuasa Malaysia sejak 1974 yang pernah dibelanya.

Hasil Pemilu Malaysua, Rabu (9/5/2018), Pakatan Harapan, koalisi partai-partai oposisi pengusung Mahathir, keluar sebagai pemenang dengan meraup 122 dari 222 kursi parlemen. Sementara Barisan Nasional, koalisi pimpinan perdana menteri sebelumnya Najib Razak hanya mendapatkan 79 kursi. Hasil pemilu ini menjadi kekalahan perdana Barisan Nasional semenjak Malaysia merdeka, atau pada 60 tahun terakhir.

Sehari kemudian, Kamis (10/5) malam Mahathir resmi dilantik sebagai perdana menteri ketujuh Malaysia. Pelantikannya disambut rasa syukur oleh ratusan orang. "Kami merasa bersatu malam ini," kata Abdul Aziz Hamzah, seorang mahasiswa.

Malaysia telah memulai perubahan. Mahathir pun, di usianya yang menjelang 93 tahun, diuji segera membangun benteng politik yang kokoh demi mengamankan reformasi, tidak semata memikirkan pemilu selanjutnya. Ia layak selalu mengingat kata James Freeman Clarke, teolog dan pengarang, bahwa "Seorang politisi berpikir tentang pemilihan umum berikutnya; seorang negarawan berpikir tentang generasi yang akan datang." (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved