BNPT Ditantang Berikan Data Valid Soal Undip Terpapar Paham Radikalisme
Bagaimana tidak, dalam pernyataannya, Hamli menyebutkan setidaknya sudah ada sekitar 7 perguruan tinggi sudah disusupi paham radikalisme itu.
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Belum lama ini, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli memberikan pernyataan apabila hampir seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme.
Namun, dalam statment yang diutarakan pada Jumat (25/5/2018) lalu dalam suatu forum diskusi di Jakarta Pusat membuat Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Dr Yos Johan Utama, prihatin serta menyayangkannya.
Bagaimana tidak, dalam pernyataannya, Hamli menyebutkan setidaknya sudah ada sekitar 7 perguruan tinggi sudah disusupi paham radikalisme itu. Satu di antaranya menyebutkan Undip Semarang.
Sementara perguruan tinggi lainnya seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (ITB), Institut Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB).
“Prihatin. Alangkah eloknya BNPT ketika pernyataan itu sudah menjadi klaim, semestinya didasarkan pada informasi data. Hingga saat ini, kami pun belum memperoleh surat resmi dari BNPT soal hal tersebut. Baru dengar informasi dari media massa,” katanya.
Kepada Tribunjateng.com, Kamis (31/5/2018) petang, pihaknya pun berharap BNPT dapat memberikan data secara valid atas pernyataan dimana di dalamnya menyebutkan nama Undip Semarang.
“Tujuannya agar kami tahu secara pasti siapa orangnya dan bagaimana cara-cara terduga itu dalam menggerakkan atau menyusupkan paham radikalisme ke kampus kami. Itu jika memang ada data pastinya,” tandasnya.
Seyogyanya pula, tambah Prof Yos Johan, BNPT dapat memberikan guider kepada seluruh rektor perguruan tinggi, baik itu negeri maupun swasta di Indonesia. Agar para rektor pun dapat bergerak dalam memberikan kebaikan negara.
“Kami semestinya diberi cara bagaimana menghadapi hingga menyelesaikannya ketika ada dugaan begitu mudahnya kampus disusupi paham radikalisme itu. Sebab, kami sadari, tidak semua bisa. Karena, itu butuh keahlian khusus,” tandasnya. (*)