Ngopi Pagi
FOKUS: Mahar Manggar
Untung bukan isu makar tapi mahar yang bikin ‘heboh’ di awal proses Pilpres 2019. Makar, memang sudah bukan zamannya di negeri
Penulis: sujarwo | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Sujarwo
Wartawan Tribun Jateng
TRIBUNJATENG.COM - Untung bukan isu makar tapi mahar yang bikin ‘heboh’ di awal proses Pilpres 2019. Makar, memang sudah bukan zamannya di negeri yang makin dewasa berdemokrasi ini. Di negeri yang sedang dalam proses memillh dua pemimpin nasional.
Bermula dari pernyataan Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief menyoal dugaan mahar Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno kepada Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera. Mahar itu, disebutnya, dijanjikan agar PAN dan PKS mau menerima Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden bagi Prabowo Subianto. "Saya ingin menyatakan bahwa saya diperintah partai bicara ini," kata Andi dalam acara sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Senin (13/8/2018) malam.
Pernyataan Andi bikin gerah pihak terkait. Ada yang mendesak agar Andi minta maaf, bahkan ada yang mengancam akan mempidanakannya. Sandiaga sendiri kepada pers mengaku siap diklarifikasi Badan Pengawas Pemilu soal dugaan mahar itu Ia pun meminta tim hukumnya mempelajari bukti otentik dari tuduhan tersebut.
Belum kelar isu mahar itu. Tapi tinggalkan dulu mahar politik. Dalam budaya negeri ini, sebenarnya mahar bagian dari proses perkawinan. Mahar atau mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat pernikahan.
Baca: Dita Soedarjo, Calon Istri Denny Sumargo Sedih Tahu Foto Masa Lalunya Beredar
Hikmah dari disyariatkan mahar ini menjadi pertanda tersendiri bahwa seorang perempuan memang harus dihormati dan dimuliakan. Mahar juga dibayarkan sebagai tanda ‘dibelinya’ sebuah cinta suci.
Kata yang bila diucap sepintas mirip mahar adalah manggar (bunga kelapa). Dalam kuliner, manggar dipakai sebagai bahan utama menggantikan nangka muda. Menurut sejumlah sumber, penggunaan manggar sebagai pengganti nangka muda itu merupakan bentuk perlawanan di masa lalu.
Konon, sebagian rakyat Bantul pada masa Perang Diponegoro melawan kekuasaan pemerintahan yang pada waktu itu mereka anggap memihak pada kepentingan Hindia-Belanda. “Kuliner Perlawanan” inilah yang kemudian menghasilkan gudeg manggar – ikon kuliner Bantul hingga saat ini.
Lain ceritanya dalam pesta pernikahan, di Semarang, manggar untuk hiasan di belakang kursi pengantin. Menurut Pengurus Himpunan Ahli Rias Pengantin, Adriyani Tresno, hiasan manggar itu memiliki makna filosofis yang dalam, sebagai simbol harapan kedua mempelai.
Baca: The Sacred Riana Dijadwalkan Tampil Secara Live di Americas Got Talent
“Manggar yang memiliki rasa manis ini diharapkan kedua mempelai merasakan manisnya pernikahan,” ujarnyaya dalam acara Pagelaran Pengantin Semarang di Mal Ciputra., Selasa (13/9/2016).
Dalam budaya negeri ini, makna mahar maupun manggar terkait perkawinan sungguh luhur, Tapi di jagad politik, mahar jadi bermakna lain. Dalam proses Pilpres, dari kaca mata budaya, calon presiden dan calon wakil presiden boleh jadi diibaratkan bak sepasang pengantin.
Dan, semoga, siapapun pemenang dalam Pilpres nanti, pasangan terpilih mampu membawa negeri yang kini genap berusiaa 73 tahun ini ke arah lebib baik. Mampu membuat hidup rakyat lebih manis, sesuai makna mahar pun manggar dalam perkawinan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sujarwo-atau-pak-jarwo-wartawan-tribun-jateng_20171010_071937.jpg)