Ngopi Pagi
FOKUS : Ujian dan Nilai
HARI-HARI belakangan ini, para pelajar yang sedang menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)
Penulis: moh anhar | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Moh Anhar
Wartawan Tribun Jateng
HARI-HARI belakangan ini, para pelajar yang sedang menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) harap-harap cemas. Ujian sebagai tolok ukur mereka setelah menuntaskan proses pembelajarannya di bangku kelas. Dan selanjutnya hasil ujian menjadi bekal mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kemarin, ribuan pelajar di Semarang mengikuti kegiatan Dzikir Akbar dan Doa Bersama di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) guna bersiap mengikuti ujian tersebut. Iringan doa sebelum ujian diharapkan menguatkan mental mereka.
Di lain tempat, hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) diumumkan. Peserta SNMPTN yang lolos segera menjadi mahasiswa baru di kampus perguruan tinggi yang mereka favoritkan. Keberadaan kampus perguruan tinggi negeri menjadi primadona bagi para lulusan SMA untuk menimba ilmu. Seleksi masuk yang ketat membuat mereka yang lolos layak berbangga.
Apalagi, bagi mereka yang benar-benar berjuang dalam belajar, mampu menyelesaikan soal-soal ujian, baik di sekolah hingga berlelah-lelah di lembaga bimbingan belajar.
Ujian dengan hasil deretan angka-angka nilai akademik menjadi satu di antara ukuran sebuah keberhasilan seorang pelajar.
Lalu bagaimana mereka yang tak bisa lolos SNMPTN? Kita bisa saja bilang: "Ah, kan ada jalur lain untuk masuk. Masih ada peluang lewat Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan seleksi mandiri di tiap-tiap PTN."
Ya, ada banyak cara berikhtiar untuk mencapai apa yang diinginkan. Syukur bisa lolos pada tahapan seleksi berikutnya.
Meski sebenarnya, tak lolos masuk PTN pun tak berarti kiamat. Kita perlu memotivasi calon mahasiswa ini untuk tetap optimistis menatap masa depan.
Ini sama halnya dengan pertanyaan: "Bagaimana bila mendapati nilai peserta ujian di tingkat SD/SMP/SMA ternyata jeblok?" Jangan lantas cepat-cepat menyimpulkan ia anak bodoh.
Seorang pelajar, idealnya menguasai materi yang sudah diajarkan guru di kelas. Namun, yang harus dipahami, daya kemampuan masing-masing anak berbeda.
Perlu adanya motivasi yang ditanamkan pada anak-anak. Mereka dituntun untuk merancang masa depan. Bila menginginkan pendidikan terbaik, maka kejarlah dengan kemampuan memenuhi standar masuk yang ditetapkan. Bila gagal, maka bangun motivasi diri dengan pengembangan bakat dan minat.
Nah, akses pengembangan bakat dan minat inilah yang perlu dikembangkan secara lebih luas. Pendidikan tak semata bangku sekolah formal. Mereka yang "kurang" dalam akademik bisa meningkatkan potensi kemampuan atapun minatnya.
Ada jalur olahraga, seni, hingga keterampilan berbasis kreativitas
Untuk bisa survive di kemudian hari, hidup bukan cuma deretan nilai-nilai ijazah. Pelajar juga perlu membekali kelebihan diri sendiri sesuai tantangan zaman. Bila hal ini dipahami, maka tak pelu ada lagi kecemasan-kecemasan para pelajar mengenai proses belajar mereka. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/moh-anhar-wartawan-tribun-jateng-ok_20170831_073512.jpg)