Jumat, 5 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dua Narapidana Melarikan Diri

Dua narapidana yang menghuni Lapas Pekanbaru nekad melarikan diri dengan cara memanjat tembok penjara

Tayang:
Penulis: ignatius prayogo | Editor: ignatius prayogo
Laporan : Boandrew Salam

PEKANBARU, TRIBUN- Dua narapidana yang menghuni Lapas Pekanbaru nekad melarikan diri dengan cara memanjat tembok penjara menggunakan kayu, pada Rabu (16/2), pukul 15.00 WIB. Hal ini sontak membuat seluruh petugas kalang kabut dan langsung meningkatkan pengawasan dan pengamanan di dalam Lapas.

Narapidana yang berhasil kabur ini bernama Aidil Doni Saputra yang dihukum delapan tahun karena kasus membakar rumah mertua dan menganiaya istri, adik ipar, dan merutuanya pada 21 September 2010. di Jalan Eka Tunggal, Gang Catur Tunggal No. 5 RT 02/ RW 01,Tuah Karya, Tampan. Selain itu, Ari Agus yang dihukum lima tahun penjara karena kasus pencabulan.

Mereka diduga memanfaatkan kelengahan petugas yang berada di dalam lapas, dengan cara memanfaatkan beberapa potong kayu bekas yang telah disambung, kemudian menyandarkan kayu tersebut ke pagar tembok lapas, lalu mereka memanjat dan melwewati kawat berduri yang ada disisi atas tembok lapas tersebut.

Setelah sampai diatas, kedua pelaku langsung melompat ke arah luar tanpa menggunakan alat apa pun, kemudian mereka melarikan diri. Tembok pagar yang mereka panjat berlokasi di pojok kiri Lapas arah ke Timur Laut.

Menurut Kalapas Pekanbaru, Agus Toyib, kepada Tribun, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengejaran dan penangkapan kepada dua orang narapidana yang melarikan diri ini. "Kan bisa saja kalau saat ini mereka sembunyi disuatu tempat," kata Agus.

Ia menjelaskan, kedua napi ini melarikan diri dengan cara memanfaatkan fasilitas-fasilitas di dalam Lapas yang sudah tua, yaitu memanjat dan melompat tembok dengan dugaan menggunakan kayu yang ada di dalam Lapas. "Belum ada laporan dari petugas di lapangan jika kedua napi ini melarikan diri dengan cara merusak fasilitas Lapas. Saya juga belum berani mengatakan jejak-jejak keberadaan mereka saat ini," jelasnya.

Kaburnya kedua narapidana ini, selain disebabkan oleh fasilitas Lapas yang sudah tua, juga disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah personil dengan jumlah penghuni Lapas yang mencapai ribuan orang. "Personil kita yang berada di dalam untuk mengawasi Napi cuma ada sembilan orang dalam setiap shift, sementara itu mereka harus bertanggung jawab terhadap 1.150 orang narapidana," ungkapnya.

Jumlah personil yang sedikit, menjadi tantangan bagi para personil pengawas para narapidana tersebut. "Tugas kami disini untuk melakukan pembinaan kepada narapidana sangat berat, mereka melakukan tugas yang kadang beresiko terhadap nyawa mereka," ujarnya.

Untuk mengawasi narapidana yang jumlahnya ribuan, paling sedikit dibutuhkan 50 personil pengawas. "Saat ini satu orang personil mengawasi hampir 200 orang narapidana, hal ini tentu saja tidak efektif. Saya telah mengajukan ke pusat untuk menambah jumlah personil, tapi masalah perekrutan itu kan menyangkut kepada anggaran negara yang terbatas," tegasnya.

Menurut salah seorang warga yang letak rumahnya tak bersampingan dengan Laspas, Roni (45), warga Jalan Pengayoman, Tangkerang Utara, mengungkapkan bahwa ia tidak melihat ada narapidana yang melompat tembok Lapas. "Saya tidak melihat ada narapidana yang kabur. Mungkin mereka kabur karena dimenara pengawas tidak ada petugas yang berjaga. Sudah seminggu terakhir ini saya lihat tidak ada petugas yang stand by di menara pengawas. Kalau ada petugas di menara pengawas, biasanya mereka membunyikan lonceng hampir setiap jam," kata Roni.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved