Jumat, 5 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pertamina Enggan Jelaskan Mitan Subsidi

Keberadaan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di Pekanbaru hingga kini tidak jelas sama sekali.

Tayang:
Penulis: ignatius prayogo | Editor: ignatius prayogo

Laporan : Palti Siahaan

PEKANBARU, TRIBUN - Keberadaan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di Pekanbaru hingga kini tidak jelas sama sekali. Pihak Pertamina sebagai operator penyalur minyak dan gas (Migas) juga enggan menjelaskan ke publik.

Sale Manager Representatif Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina Riau- Kepri Witdoso, saat ditemui di DPRD Riau, Rabu (16/2) tidak bisa menjelaskan keberadaan mitan bersubsidi jatah Kota Pekanbaru serta pendistribusiannya selama ini. Berbagai pertanyaan Tribun tak ia jawab sama sekali.

"Apanya lagi bos. Distrubisi yang mana," jawab Witdoso sembari berlalu menghindari pertanyaan Tribun.

Dicecar dengan pertanyaan yang sama, Witdoso akhirnya mengatakan akan menjelaskan mitan bersubsidi tersebut di depan DPRD Pekanbaru. "OK lah. Nanti saya jelaskan di DPRD kota (Pekanbaru) ucap Witdoso yang langsung meninggalkan gedung DPRD Riau.

Rencananya, hari ini DPRD Pekanbaru yakni Komisi II melakukan dengar pendapat dengan Pertamina dan juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pekanbaru. Materinya, terkait konversi gas dan keberadaan mitan bersubsdidi di Pekanbaru. Namun batal karena DPRD Riau juga melakukan kegiatan yang sama namun pembahasannya tentang konversi gas secara umum.

Keberadaan mitan bersubsidi di Pekanbaru memang menjadi pertanyaan, baik pihak eksekutif dan legislatif Kota Pekanbaru. Kedua lembaga tersebut pun jengkel dibuat Pertamina sebab penjelasan keberadaan mitan bersubsidi tidak ada.

Jatah mitan bersubsidi Pekanbaru saat ini sebesar 30 persen atau sekitar 750 ribu liter per bulannya. Adanya mitan bersubsidi ini dikarenakan pelaksanaan konversi gas yang belum usai di Pekanbaru. Mitan yang beredara di tengah - tengah masyarakat saat ini adalah mitan non subsidi yang harganya membumbung timggi yakni sberkisar Rp. 7.000 - Rp. 8. 000 per liter. Mitan bersubsidi senilai Rp. 3.000 per liter.

Tidak jelasnya keberadaan mitan bersubsidi ini diketahui sejak Oktober tahun lalu. Kala itu, 30 permintaan operasi pasar disampaikan ke Pertamina. Namun hanya 4 permintaan saja yang dipenuhi dengan jumlah mitan bersubsidi hanya 5 ribu liter saja per permintaan. Hingga kini Disperindag Pekanbaru selalu mengirimkan surat permintaan OP walau tidak pernah ditanggapi Pertamina.

Komisi II DPRD Pekanbaryu tidak mau patah arang batal hearing yang direncanakan rabu pagi (16/2). Hearing selanjutnya langsung dijawalkan yakni Selasa pekan depan (22/2). Pertemuan nanti pun tidak bisa diwakilkan sama sekali.

"Kita sudah dengar kabar dari Dierindag dan Iswana migas yang tak bisa hadir. Mereka rapat di DPRD Riau. Dari Pertamina yang belum kita dapatkan konfirmasi. Kita tetap akan adakan pertemuan. Selasa depan," ucap Nofrizal pada Tribun.

Disisi lain, pelaksanaan konversi gas di Pekanbaru hingga kini belum juga selesai. Hingga saat ini, dari 28 ribu lebih sasaran konversi kali ini, yang masih tersentuh dan mendapatkan perlengkapak gas 3 kg secara lengkap sekitar 13 ribu warga. Sisanya belum kebagian.

"Sampai saat ini, informasi yang kita peroleh sudah 13 ribu lebih warga yang mendapatkan konversi gas. Sisanya masih dalam pendataan," kata Hasan Basri, Ketua tim koordinator pembagian konversi gas Disperindag Pekanbaru kepada Tribun di DPRD Riau.

Hasil pendataan, Hasan menambahkan, jumlahnya masih 15 ribu warga. Ini menandakan kekurangan pendataan masih banyak lagi. Hasan pun tak bisa memastikan kapan akan berakhir konversi di PekanbaruM sebab tidak bisa diprediksi. Perkiraan selesai konversi yang dilakukan sebelumnya selalu salah. Sebelumnya ditargetkan pada akhir Januari konversi selesai dilakukan.

Penyebabnya molornya penyelesaiaan konversi dikarenakan warga enggan memberikan data - datya diri kepada pihak konsultan. Sebab, warga sudah sering didata namun pembagian tak juga terealisasi.

"Pendataan ini yang menjadi kendala konversi. Warga itu sudah bosan terus didata tapi tak ada hasilnya," ucap Hasan.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved