Syok Lion Air Tergelincir di Bandara SSK II
Kecelakaan pesawat terbang terjadi di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Senin (14/2) malam
Penulis: ignatius prayogo | Editor: ignatius prayogo
PEKANBARU, TRIBUN - Kecelakaan pesawat terbang terjadi di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Senin (14/2) malam. Pesawat Lion Air tergelincir di ujung landasan saat mendarat setibanya dari Jakarta.
Beruntung tak ada korban jiwa dan luka dalam kejadian ini. Namun seorang penumpang bernama Lusti harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pingsan. Lusti diduga mengalami syok karena panik begitu tahu pesawat tergelincir.
Juwita, ibu kandung Lusti yang jarak rumahnya sekitar 10 menit perjalanan menuju bandara tak berapa lama tiba di pintu kedatangan. Dalam keadaan panik dan cemas mencoba meminta izin kepada petugas untuk melihat kondisi anaknya yang sedang pingsan, tetapi para petugas di pintu kedatangan melarang ibu yang berumur sekitar 50 tahun ini masuk ke dalam terminal bandara.
Perlakuan petugas bandara ini sontak membuat Juwita emosi dan marah. "Anak saya pingsan di dalam kok saya tidak boleh masuk? Kalau anak saya mati siapa yang tanggung jawab? Saya ini datang kesini mau membawa anak saya pulang ke rumah," ketus Juwita kepada petugas.
Sekitar pukul 22.15 WIB, Lusti Maharani (22), penumpang Pesawat Lion Air JT 0392 asal Marpoyan Damai, Pekanbaru, yang merupakan anak kandung Juwita, keluar dari terminal bandara dengan cara digendong oleh beberapa orang petugas bandara menuju ke Taksi Puskopau karena pingsan. Menurut adiknya, Riri (20), kepada Tribun, kakaknya pingsang akibat shock saat pesawat tergelincir di ujung run away landasan saat mendarat.
"Ketika pesawat tergelincir, lampu dan pendingin udara diatas pesawat langsung mati. Penumpang langsung panik dan berdesakan menuju pintu depan, sedangkan pintu belakang tidak dibuka. Mungkin itu salah satu pemicu kakak saya pingsan karena sesak napas kehabisan oksigen. Saya sempat panik dan cemas dengan kondisi kakak saya, kemudian saya menelepon ibu saya di rumah agar segera datang menjemput kami di bandara. Sekarang kita mau membawa Lusti ke Rumah Sakit Awal Bros," Kata Riri sambil berjalan tergesa-gesa.
Menurut Beni (23), warga Sukajadi, Pekanbaru, awalnya pesawat ini dijadwalkan berangkat dari Cengkareng menuju Pekanbaru, pukul 18.10 WIB, karena delay, akhirnya pesawat berangkat pukul 19.15 WIB. Saat hampir tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, ternyata cuaca sedang buruk karena hujan lebat.
"Pukul 21.05 WIB, pramugari pesawat mengumumkan kepada penumpang agar mengenakan sabuk pengaman, karena cuaca sedang buruk dan jarak pandang hanya satu kilo meter. Pilot Hambaoran Hardiansyah memutuskan untuk berputar-putar di udara hingga sekitar 25 menit," kata Beni.
Setelah cuaca agak membaik, pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di run away. Saat pesawat mendarat, ternyata kondisi landasan yang masih basah tak mampu menahan laju pesawat, sehingga pesawat tergelincir di ujung bandara.
"Posisi kepala pesawat ke arah barat laut, sebagian badan pesawat sudah keluar dari landasan. Saat itu semua penumpang panik. Pintu pesawat hanya bagian depan saja yang dibuka, sehingga penumpang berdesak-desakan menuju ke pintu depan dengan kondisi di dalam pesawat yang gelap. Setelah itu penumpang dijemput dengan sebuah bus yang hanya bisa mengangkut sekitar 40 orang, jadi kita naik bus secara bergantian," katanya.
Seluruh para penumpang akhirnya bisa terangkut ke bandara pada pukul 22.00 WIB. Untuk menunggu mengambil bagasi dibutuhkan waktu hingga pukul 23.00 WIB. Sementara itu, para wartawan dilarang oleh petugas penjaga pintu untuk masuk menuju terminal. Sementara itu, Airport Duty Manager, Angkasa Pura II Pekanbaru, Ibnu Hasan, yang pada malam itu bertugas tidak mau menjawab sambungan telepn Tribun karena sibuk untuk mengevakuasi pesawat.
Sementara itu, Manager Lion Air Pekanbaru, Novi, saat dikonfirmasi Tribun melalui telepon dan sms tidak bersedia menjawab telepon dan membalas sms.