Enam ekor unggas positif flu burung selama Februari
Enam ekor unggas dipastikan positif mengidap virus flu burung (avian influenza) di Pekanbaru.
Penulis: ignatius prayogo | Editor: ignatius prayogo
Laporan : Afrizal
PEKANBARU, TRIBUN - Enam ekor unggas dipastikan positif mengidap virus flu burung (avian influenza) di Pekanbaru. Unggas jenis ayam ini berasal dari sampel hasil pemeriksaan yang dilakukan Dinas Pertanian Pekanbaru dari tiga lokasi tempat ditemukannya unggas mati mendadak selama Februari.
Kepala Dinas Pertanian Pekanbaru, Sentot D Prayitno mengatakan enam ekor ayam positif flu burung ini tiga ekor ditemukan di Tangkerang Timur, dua ekor di Rumbai Pesisir dan satu ekor di Tuah Karya.
Dengan adanya kasus positif flu burung terhadap unggas ini, Dinas Pertanian harus melakukan depopulasi terhadap seluruh jenis unggas dengan radius 100 meter. Depopulasi atau pemusnahan ini dilakukan secagai upaya menekan penyebaran virus terhadap unggas lainnya. Selain itu, juga dilakukan penyemprotan desinfektan terhadap lokasi ditemukannya ayam serta kandang agar virus tidak pindah ke ternak lainnya.
"Pekanbaru memang ada tiga titik saat ini yang terjangkit flu burung. Sesuai protap kita sudah lakukan depopulasi dan penyemprotan desinfektan," katanya pada Tribun, Senin (28/2).
Jumlah unggas yang mengalami depopulasi, lanjut Sentot bervariasi disetiap lokasi. Di Jalan Pembangunan Rumbai Pesisir jumlah yang dimusnahkan sebanyak 25 ekor. Di Jalan Cipta Karya, Tuah Karya sebanyak 12 ekor. Sedangkan Jalan Dahlia Indah, Tangkerang Timur 11 ekor. Guna meminimalisir penyebaran virus ini, warga yang memelihara unggas hendaknya mengandangkan ternak tersebut. Jarak antara kandang dengan tempat tinggal minimal 15 meter. "Sedapat mungkin dipisah dari pemukiman," katanya.
Meksipun sudah terjadi di tiga lokasi berbeda selama satu bulan, dikatakan Sentot kejadian yang terjadi menjelang akhir bulan ini belum kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Flu burung baru dikatakan KLB bila depopulasi ternak dilakukan dengan radius satu kilometer. Selama ini, kejadian temuan ayam mati mendadak tersebut masih terpisah dengan lokasi berbeda meskipun ditemukan positif.
"Kita belum KLB. KLB itu kalau depopulasi itu sudah mencapai satu kilometer. Saat ini baru blok blok saja kejadiannya," ujar Sentot
Pekanbaru mengalami KLB flu burung terakhir kali Februari 2006 silam. Kala itu dilakukan pemusnahan besar besaran ternak unggas sekitar 3450 ekor dengan pusat di Meranti Rumbai.
Menurut Sentot, selain flu burung, ada penyakit unggas dengan nama Newcastle Disease (ND).
Penyakit unggas ini memiliki ciri-ciri menyerupai flu burung, namun bukan flu burung.
"Jadi kalau ada ayam mati mendadak itu belum tentu flu burung. Bisa juga kena ND ini," katanya.
Meskipun belum KLB, Sentot meminta warga yang memelihara unggas, selalu mengandangkan ternak mereka. Unggas yang dibiarkan lepas begitu saja mencari makan, rawan kena penyakit serta menularkannya. Apalagi dengan cuaca yang tidak menentu saat ini.
Bila dikandangkan, harus memiliki jarak minimal 20 meter dari pemukiman. Selain itu juga rutin dilakukan pemberian desinfektan terhadap kandang maupun unggas. Air bekas cucian yang mengandung detergen, merupakan desinfektan yang aman dan mudah didapatkan warga.
"Jadi setiap selesai mencuci ibu ibu bisa menyiramkannya ke kandang sebagai desinfektan," ujar Sentot.
Sentot meminta, seluruh unggas harus dimasukkan kandnag agar mudah melakukan monitor kesehatan ternak. Bila ada kejanggalan dari ternak tersebut, warga bisa melapor kepada Dinas Pertanian. (riz)