Penemuan Ladang Mayat
Uang Ratusan Juta Milik Anak Profesor Undip Hilang Misterius
Kami menyita barang bukti hanya alat ritual, misalnya peti, kain putih, jas, dan lainnya
Penulis: adi prianggoro | Editor: agung yulianto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Adi Prianggoro
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kendati dukun pengganda uang asal Magelang, Muhyaro, sudah tewas namun kasus ini masih menyisakan sejumlah pertanyaan di kalangan masyarakat.
Di antaranya yakni raibnya uang ratusan juta milik anak profesor dari Undip Barda NawawI, Yulanda Rifan, yang dibawa ke rumah Muhyaro di Desa Petung, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
Sebelumnya diinformasikan, bila Yulanda yang merupakan dosen jurusan teknik arsitektur Undip itu membawa uang ratusan juta kepada Muhyaro yang dikenal sebagai dukun pengganda uang. Jenazah Yulanda ditemukan di ladang yang jaraknya sekitar 400 meter dari rumah Muhyaro.
"Kami menyita barang bukti hanya alat ritual, misalnya peti, kain putih, jas, dan lainnya. Sementara kami tidak menyita uang, baik asli maupun palsu. Tersangka utama sudah meninggal, jadi kami juga kesulitan melacak asetnya dan kami tidak tahu di mana dia menyimpan uangnya," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, AKBP Agus Susanto, Rabu (28/8/2013).
Ia menjelaskan, saat ini penyidikan kasus dukun pengganda uang masih berlangsung meski Muhyaro telah tewas. Proses penyidikan masih seputar tentang mengungkap identitas dua jenazah yang ditemukan di ladang Muhyaro.
Tersangka lain yang sebelumnya diberitakan turut membantu Muhyaro, Lasmono alias Mono, warga Wonosobo, belakangan diketahui tidak terlibat pembunuhan.
"Lasmono mengaku hanya pernah ketemu Muhyaro. Kami menjeratnya dengan pasal penipuan atas kasus penggandaan uang warga Kudus, bukan pasal tentang pembunuhan," kata Agus Susanto.
Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes Musyafak menuturkan, hasil tes DNA terhadap kedua jenazah tidak cocok dengan Sunaryo (39), warga Cilacap dan Nurudin (49), warga Banjarnegara. Sebelumnya pihak kepolisian melansar bila ciri-ciri sekunder, berupa bentuk dan ciri-ciri fisik, dari dua jenazah itu mirip Sunaryo dan Nurudin.
Kedua orang yang berprofesi sebagai guru SMP ini menurut kerabatnya meninggalkan rumah karena alasan menemui seorang dukun pengganda uang di Kepil, Wonosobo, sejak 2011 lalu.
"Setelah dipastikan dua jenazah itu tidak ada kecocokan DNA dengan Sunaryo dan Nurudin maka kami menyimpah jenazah tersebut di ruang freezer di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang," kata Musyafak.
Dia menjelaskan, jenazah pertama atau X-1 berusia sekitar 30-40 tahun dengan tinggi badan 160 cm, rambut hitam, lurus, pendek. Korban memakai celana dalam warna putih merk Hing's.
Celana pendek dan memakai celana panjang warna biru tua dan terdapat jarum peniti pada reslitingnya. Selain itu korban juga memakai kaus berkerah motif kotak, merah-kuning merk Jeans Broeq, Men's Italy berukuran L.
Sementara, jenazah dua atau X-2 berusia sekitar 40-50 tahun, rambut hitam bercampur putih (sudah beruban). Memakai celana dalam warna biru dongker merk Harmony, celana jins 3/4 merk WR berukuran 31, kaos tidak berkerah bermerk Planet Surf ukuran L, warna biru motif garis-garis coklat.
Terdapat kantong baju di kiri depan. Celana jeans panjang warna biru merk WR berukuran 31.