Inilah Kronologi Wahyu Dipaksa Mundur sebagai Mahasiswa Udinus

Wahyu Dwi Pranata (20), tak habis pikir,Selasa (17/9/2013) lalu, dirinya diminta mengundurkan diri dari kampus tempatnya belajar, Udinus Semarang.

Penulis: suharno | Editor: rustam aji
Inilah Kronologi Wahyu Dipaksa Mundur sebagai Mahasiswa Udinus
Wahyu Dwi Pranata

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Suharno

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kebingungan melanda Wahyu Dwi Pranata (20). Hari Selasa (17/9) lalu, dirinya diminta mengundurkan diri dari kampus tempatnya belajar yakni di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Sekitar pukul 14.00, Wahyu dipanggil ke ruang Wakil Rektor. Di ruang itu kedua orangtua Wahyu sudah menunggu sambil memegang kopian dari tulisan-tulisan yang telah dibuatnya.

"Saya kaget. Saya kira kedua orangtua saya dipanggil ke kampus untuk menjelaskan kegiatan organisasi saya yang begitu pada di kampus, sehingga terkadang mengganggu aktifitas akademi saya, tetapi ternyata saya disuruh mengundurkan diri," ujarnya kepada Tribun Jateng, Jumat (20/9).

Mahasiswa jurusan Teknik Elektro itu disuruh menandatangani surat pengunduran diri karena kerap mengkritik kebijakan kampus. Tulisannya pun kerap diunggah ke situs berita online, blog maupun akun pribadinya di Kompasiana.

"Tidak banyak kesempatan untuk mengobrol kala itu. Saya langsung di tawari dua pilihan, pencemaran nama baik dan terkait UU ITE atau saya harus mengundurkan diri," sambungnya.

Mahasiswa asal Purwodadi itu mengaku tidak punya waktu untuk menunda dan menganalisis masalah tersebut terkait UU ITE. Pihak kampus langsung menyodorinya sebuah kertas bermaterai yang harus ditandatanganinya yang merupakan surat pernyataan pengunduran diri.

Surat pengunduran diri itu diperbarui pada hari Kamis (19/9) kemarin. Kedua orangtua Wahyu dan dirinya kembali dipanggil untuk datang ke kampus.

Wahyu mengatakan awal mulanya dia dianggap kritis saat menulis tentang "Banner Udinus Tipu Mahasiswa." Tulisan itu berisi tentang program mahasiswa Udinus yang kuliah selama satu tahun di Malaysia, tetapi nyatanya mahasiswa Udinus hanya kuliah selama enam bulan di Universitas Teknikal Malaysia Malaka (UTeM).

Dari tulisan yang akhirnya masuk ke situs berita online itu, Wahyu pun dipanggil oleh pihak Rektorat untuk dimintai pertanggungjawabannya tentang tulisan itu. Wahyu pun juga akan diberitahu tentang kesepakatan atau MoU tentang kerjasama antara Udinus denga UTeM, tetapi hingga kini diakui Wahyu, kesepakatan itu tidak pernah ditunjukannya.

"Setelah dipanggil, saya sempat menyesal telah menulis karena Pak Rektor mengatakan dari tulisan saya itu bisa berdampak kepada 11.000 mahasiswa Udinus dan juga alumni jika kampusnya dicap sebagai kampus penipu," jelasnya.

Wahyu tidak hanya menulis itu saja, dirinya juga aktif menulis dan mengkritik kampusnya di blog maupun kompasiana. Salah satu tulisan yang mengkritik dunia pendidikan dan paling banyak dibaca yakni "Kau Renggut Miliaran dari kami lalu Kau Perlakukan Kami Seperti Orang Miskin."

Wahyu beranggapan tulisannya merupakan bagian dari hak kebebasan mengungkapkan pendapat di negara demokrasi ini. Namun lagi-lagi pihak kampus memanggilnya dan memintanya menghapus semua tulisannya.

Dalam ingatannya juga masih jelas terekam kata-kata halus Rektor Udinus yang menginginkannya untuk kuliah di Amikom, Yogyakarta. “Kalo kamu merasa di Udinus itu tidak suka atau jelek ngomong lah. Atau kamu sekolah di Amikom saja? Nanti tak bayari,” ungkapnya meniru kata-kata Rektor Udinus.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved