Smart Women
Suster Emma Mengabdi pada Tuhan Lewat Melayani Anak
Saat itu, pacar dan keluarga saya tidak setuju
Penulis: herlina widhiana | Editor: agung yulianto
SUSTER Emma, begitu dia akrab disapa, mantap menjalani hidup sebagai seorang abdi Tuhan setelah melewati perjalanan spiritual panjang. Emma kecil tidak pernah membayangkan menjadi suster. Bahkan, dia tubuh hingga dewasa layaknya gadis umum.
"Saya sekolah di sekolah umum. Dan ketika SMA, saya punya seorang pacar," ujar pemilik nama lengkap Maria Emmanuella Nanik Tri Wiyanti OSF itu.
Hingga lulus SMA, jalinan kasih itu masih berjalan. Namun, saat bekerja, dia merasa mendapatkan panggilan menjadi biarawati. Kala itu, dia bekerja sebagai staf administrasi di satu sekolah Katolik. "Selain sebagai staf administrasi, saya sering dimintai merawat suster yang menjabat kepala sekolah yang menderita kanker," beber dia.
Emma begitu terkesan pada sosok suster yang semangat, tersenyum, dan tidak pernah mengeluh kendati sakit parah. Dari situlah keinginan menjadi biarawati muncul. Emma pun memberanikan diri mengutarakan keinginan kepada kekasih maupun keluarga. "Saat itu, pacar dan keluarga saya tidak setuju," aku wanita kelahiran Wonosari, Yogyakarta, itu.
Namun, pertentangan yang dihadapi tidak membuat niatnya pupus. Bahkan, Emma rela memutus hubungan asmara bersama sang kekasih yang sudah berjalan empat tahun. "Padahal, kami sudah berangan-angan mau punya rumah di mana dan punya anak berapa. Tapi, saya begitu ingin menjalankan panggilan Tuhan," kata Emma.
Tahun 1997 dia masuk sekolah biarawati. Delapan tahun menjalani pendidikan, Emma merasakan panggilan Tuhan menguat. Namun, godaan menghampiri. Mantan kekasih kembali menghubungi dan mengajak dia menikah.
"Mantan pacar saya menanyakan, apakah saya masih mau menikah dengannya atau saya tetap tinggal sebagai suster dan mengizinkan dia menikah," ujarnya.
Tawaran itu sontak direspon secara tegas. Emma memutuskan tetap menjalani pendidikan sebagai suster dan mengizinkan mantan kekasihnya menikahi orang lain. Emma mengatakan, dia tidak ingin pergi ke lain hati. "Total menyerahkan diri ke Tuhan," ucapnya.
Keputusan itu diakuinya sebagai hal berat. Apalagi, saat hari pernikahan sang mantan. Emma pun merasakan kesedihan. "Seharian itu saya berjuang meredam emosi dan berdoa agar dia bahagia dengan pilihannya," ungkap wanita yang menjadi pengurus Tim Peduli Pendidikan (TPP) Kevikepan Semarang itu.
Selama menjalani sekolah biarawati, pihak keluarga belum sepenuhnya merelakan Emma melayani Tuhan sepenuh waktu. Orangtua masih berat memikirkan putri yang dibesarkan jarang pulang karena harus mengikuti pendidikan biarawati.
"Puji Tuhan, tahun 2001 keluarga setuju. Itulah misteri, mungkin karena selama pendidikan saya banyak mendoakan keluarga," tutur dia.
Selama menempuh ilmu di sekolah biarawati, Emma menemukan ketertarikannya. Dia ingin melayani anak-anak. "Saya pernah melihat anak-anak di panti asuhan yang tidak dirawat dan tidak punya orangtua, lalu saya ingin jadi orangtua mereka," beber wanita yang hobi menyanyi itu.
Lantaran menaruh minat pada dunia anak-anak, Emma memutuskan melanjutkan pendidikan di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.
Di tengah sekolah menjadi guru, Emma mengikatkan diri kepada Tuhan. Dalam prosesi kaul kekal, dia berkomitmen mengabdikan sepanjang hidup kepada Tuhan. "Artinya, saya siap tidak menikah karena sudah 'menikah' dengan Tuhan," papar Emma.
Lulus dari PGSD, dia ditugaskan di beberapa sekolah. Sekarang, dia dipercaya menjadi kepala sekolah di pra-PG (playgroup), PG, dan TK Kanak-Kanak Yesus Semarang. Sebagai kepala sekolah, Emma tidak hanya melayani anak didiknya.