Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Ami Berhasil Ajak Anak Muda ke Pecinan Semarang

Ke depan, maunya menulis tentang budaya-budaya lagi

Penulis: herlina widhiana | Editor: agung yulianto

PENGALAMAN menulis di blog, tidak pernah membuat Anastasia Dwirahmi berpikir menerbitkan buku. Keinginannya hanya membuat arsip pribadi di blog. "Apalagi bisa diterbitkan di penerbit besar, siapa yang mengira?," ujar dia.

Menuangkan pikiran atau pengalaman di blog bermula dari keisengan dia mencari kesibukan saat di rumah. Ami, sapaan akrabnya, tertarik mengabadikan Pecinan Semarang dalam sebuah tulisan. Dia secara berkala berkunjung dan membuat tulisan yang diposting di blog. Suatu hari, ada seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta menghubunginya.

Kepada Ami, mahasiswi bernama Nanda itu mengaku dari jurusan Desain Komunikasi Visual dan akan membuat tugas akhir. Bahan yang dipilih, desain buku yang berisi kumpulan tulisan Ami tentang pecinan yang ditulis di blog. Ami diminta mengubah tulisan yang ada di blog menjadi naskah buku yang akan di desain Nanda.

"Jadi, dia (Nanda) tertarik mendesain buku yang bahan tulisannya di blog saya," beber Ami.

Semula, interaksi yang dilakukan hanya melalui internet. Untuk membahas kelanjutan proyek tersebut, keduanya bertemu di Semarang. Lantaran ada beberapa spot yang disukai Nanda, Ami pun melakukan wawancara ulang dan membuat tulisan baru.

"Setelah itu, semua tulisan saya dikumpulkan jadi satu buku sebagai tugas akhir Nanda," kata wanita kelahiran Jakarta itu.

Saat kelulusan, buku hasil desain Nanda yang berisi kumpulan cerita milik Ami dipamerkan bersama buku lain hasil desain mahasiswa Binus. Dalam pameran tersebut, pihak universitas mengundang beberapa penerbit. "Ternyata, ada penerbit yang tertarik menerbitkan buku kami," papar dia.

Ami tidak menyangka, buku yang hanya dimaksudkan sebagai tugas akhir bisa diterbitkan. Dalam buku itu, hal yang diutamakan hanyalah sisi desain buku. "Karena memang untuk tugas, yang penting ada tulisan dan foto, lalu didesain. Kalau pun ada yang menilai, hanya dosen," tutur dia.

Ami Senang kumpulan tulisan iseng yang dibuat menjadi proyek serius. Namun, dia sempat khawatir mendapat tanggapan buruk dari pembaca. Apalagi, dia penulis pemula yang tidak banyak tahu tentang pecinan. "Saya khawatir dihakimi orang-orang yang lebih tahu seluk beluk pecinan," aku alumni Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu.

Dia sedikit merasa tenang karena hingga saat ini respon pasar tidak terlalu buruk. Memang, ada beberapa pihak yang bersikap datar ketika mengetahui dia menulis buku tentang pecinan di Semarang. Namun, ada pula orang yang memberi masukan mengenai penggunaan istilah atau nama orang yang penulisannya masih salah.

Apresiasi justru diperoleh dari kalangan anak muda. Selain buku, dia juga membuat akun @pecinansemarang di situs Twitter. Dari akun tersebut, dia memeroleh berbagai masukan. "Beberapa yang komentar memuji buku itu karena tidak banyak buku berisi kebudayaan didesain menarik," terang Ami.

Bahkan, ada remaja yang tertarik berkunjung ke Pecinan Semarang setelah membaca hasil karyanya. Menurut Ami, buku itu cukup berhasil menarik anak muda datang ke Semarang.

"Ada lagi aktivis luar kota yang ingin membuat buku tentang Pecinan di kotanya dan mengajak saya menulis. Tapi saya menganjurkan mereka menulis langsung," kata wanita kelahiran 21 Januari 1987 itu.

Jika dirunut, ketertarikannya menulis tentang Pecinan didorong karena Ami menyadari latar belakang sebagai peranakan Tionghoa. Dia terpanggil melestarikan kebudayaan China yang telah terakulturasi di Semarang.

Pengalaman Ami bekerja di sebuah museum menambah kecintaannya terhadap sejarah dan budaya. "Ke depan, maunya menulis tentang budaya-budaya lagi tetapi masih harus belajar karena tidak boleh sembarangan," papar dia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved