Ratusan Pengungsi Longsor Watukumpul Pemalang Sakit
Agar para pengungsi tidak stres, kami akan mengadakan pelatihan
Penulis: YS adi nugroho | Editor: agung yulianto
TRIBUNJATENG.COM, PEMALANG - Lebih dari 100 orang korban tanah longsor yang mengungsi di GOR Jujugan, Pemalang, sakit. Tiga dari 199 pengungsi yang berasal dari sejumlah desa korban longsor di Kecamatan Watukumpul, Pemalang, itu bahkan harus menjalani perawatan di Puskesmas Watukumpul.
Koordinator Posko Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kecamatan Watukumpul, Ria Kurniawan mengatakan, pengungsi di GOR Jojogan berjumlah 199 orang. "Hampir semuanya sakit. Rata-rata sakit demam," kata Ria kepada Tribun Jateng, Rabu (12/2/2014).
Ria menduga, para pengungsi sakit karena kurang tidur. Pasalnya, kapasitas ruangan GOR Jujugan itu hanya mampu menampung separuh dari jumlah pengungsi. Alhasil, para pengungsi pun berjejal di ruangan itu.
"Oleh jarena berjejal-jejal, para pengungsi jarang tidur. Akibatnya, kekebalan tubuh pun menurun. Apabila ada seorang yang sakit flu, maka penyakit pun gampang menular ke para pengungsi yang lain," kata Ria.
Selain itu, pola makan juga berpengaruh pada kesehatan para pengungsi. Saat ini, tim relawan telah membuat menu makanan yang bergizi. Namun, kendala lain pun muncul. "Stok sayuran hanya bisa bertahan sampai besok (Kamis hari ini--Red)," ujarnya.
Dia juga menambahkan, untuk kebutuhan beras dan lainnya, masih bisa terpenuhi hingga dua minggu mendatang. Setelahnya, Ria tidak tahu lagi bagaimana untuk memberi makan pada 2.020 jiwa yang mengungsi di beberapa posko.
Sementara itu, para pengungsi jelas tidak mungkin kembali ke rumah yang telah hancur atau pun tertimbun longsor. Para pengungsi ini juga belum beraktivitas normal. Sebab, mata pencaharian mereka pun juga telah lenyap oleh longsor dan banjir.
"Agar para pengungsi tidak stres, kami akan mengadakan pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu. Hal ini guna memberikan kesibukan dan manfaat yang bisa menghasilkan uang untuk memotivasi diri mereka sendiri," katanya.
Relokasi
Ria menerangkan, saat ini telah ada wacana untuk relokasi. Warga korban tanah longsor juga telah menyetujui rencana relokasi tersebut. Setidaknya, ada 366 kepala keluarga yang telah setuju untuk relokasi. "Bahkan, mereka juga tidak mau pulang ke lokasi asal mereka karena takut bencana datang kembali," jelasnya.
Sejumlah warga itu berasal dari Dukuh Krajang (Desa Cikadu), Dukuh Mandalika (Desa Tlagasana), Dukuh Jahak (Desa Medayu), Dukuh Ringamba dan Dukuh Bungkus (Desa Majalangu), dan Dukuh Sikemplang (Desa Watukumpul).
Terpisah, Bupati Pemalang, Junaedi, dalam Rapat Koordinasi Pejabat Pemkab Pemalang belum lama ini menyampaikan, pihaknya sudah melaporkan masalah ini kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Gubernur, menurut Junaedi, memerintahkan untuk segera dibuatkan Surat Pengajuan Relokasi yang ditujukan kepada Badan Nasional Penanggungan Bencana melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah. "Surat pengajuan itu dilengkapi dengan rencana kebutuhan untuk relokasi," katanya. (Tribun Jateng cetak/ysn)