Anies Baswedan Kirim Video Khusus ke Universitas Muria Kudus
Seminarnya kan mengulas tentang guru. Karena ke depan saya juga menjadi guru
Penulis: m zaenal arifin | Editor: agung yulianto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Badan Ekskutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) Kudus, menggelar seminar pendidikan yang bertajuk "Mendidik Sepenuh Hati Mengembalikan Jati Diri Guru" sebagai rangkaian Festival Pendidikan Jawa Tengah di Auditorium UMK, Senin (17/2/2014). Seminar tersebut diikuti ratusan mahasiswa dari FKIP.
Seorang mahasiswa FKIP, Ayu Hapsari, begitu tertarik mengikuti seminar tersebut. Dia datang bersama teman-temannya untuk mengetahui jati diri guru. Pasalnya, hal itu menjadi persiapan dirinya yang juga bercita-cita menjadi guru.
"Seminarnya kan mengulas tentang guru. Karena ke depan saya juga menjadi guru, jadi seminar ini bisa menjadi persiapan saya," kata mahasiswa semester VI itu.
Hanya saja, Ayu merasa kecewa saat mengikuti seminar. Narasumber Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, yang menjadi tujuan utamanya ikut seminar, ternyata tidak bisa hadir secara langsung. Anies hanya mengirimkan video yang khusus dibuat untuk seminar ini.
"Awalnya memang terdorong karena adanya pak Anies yang jadi narasumber. Tapi beliau tidak bisa hadir dan hanya kirim video," ujarnya.
Meski sempat kecewa, Ayu akhirnya mengikuti pemaparan Anies Baswedan melalui rekaman videonya. Ayu pun merasa senang bisa mendapatkan materi dari Anies yang menggagas program "Indonesia Mengajar" itu.
Melalui video yang dikirimkan, Anies memaparkan pentingnya memperhatikan pendidikan. Menurutnya, pendidikan adalah interaksi antar manusia, sehingga fokus utama yang mesti diperhatikan juga manusia.
"Di dunia pendidikan, yang pertama harus diperhatikan, yaitu kualitas para pendidik. Jika ingin memajukan pendidikan, pengembangan kualitas para pendidik ini harus dikembangkan dan diperhatikan," katanya.
Selain pendidik (guru), majunya dunia pendidikan ini tidak bisa dilepaskan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Menurutnya, kepemimpinan kepala sekolah yang baik, akan mendukung majunya sekolah dan dunia pendidikan. "Sebab, dia bisa mendorong sekolah menjadi ruang belajar yang baik pula," jelasnya.
Pada seminar tersebut, hadir pula narasumber lain yaitu kolumnis dan pemerhati pendidikan, Eko Prasetyo, dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Bisri Adib Chattani.
Dalam paparannya, Eko mengatakan, menjadi seorang pendidik (guru), pada dasarnya memiliki tiga kebanggaan. Pertama, mengantar siapa saja yang mau menemukan masa depan. Kedua, peneguh nilai-nilai agung yang pantas jadi bekal kehidupan. Ketiga, sosok yang memberi inspirasi pengetahuan.
"Inilah alasan-alasan yang meneguhkan keunggulan guru. Hanya saja, persoalannya tidak sesederhana itu. Dan sekolah juga bukan lembaga yang bisa membereskan semua masalah," katanya.
Menurut Eko, seorang guru harus bisa menembus kebekuan dan problem yang melingkupi dunia pendidikan. Guru pada saat-saat tertentu, kerap memberikan pujian kepada siswa, dan bukan hukuman. Selain itu, guru perlu mencari strategi membuat kelas agar tidak kusut dan menjemukan.
Pada saat ini, lanjut Eko, guru memiliki beban yang sangat besar. Yaitu mencerdaskan siswa, mengangkat kemampuan mengajar, hingga melahirkan siswa saleh dan berkarakter.