Smart Women
Ita Buat Obat Sekaligus Marketing Klinik
ITA Zonia Wisudasari tidak menyangka pernah menulis profesi apoteker sebagai cita-cita yang ingin diraih
ITA Zonia Wisudasari tidak menyangka pernah menulis profesi apoteker sebagai cita-cita yang ingin diraih ketika mengisi buku kenang-kenangan sekolah dasar (SD). "Saat mendaftar kuliah saya tidak ingat pernah punya cita-cita sebagai apoteker. Baru sadar ketika iseng membaca buku kenang-kenangan SD," ujar dia.
Sebenarnya, dia lebih tertarik pada bidang komunikasi. Itu sebabnya, saat kuliah dia menjalani setengah hati. Proses pendaftaran juga diurus sang ibu. "Mama yang mendaftarkan. Ternyata, hanya menggunakan nilai rapor sudah diterima tanpa tes dan bebas uang gedung," papar Ita.
Kendati melakoni separo hati, Ita mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu. "Saya lulus setelah kuliah 3 tahun 8 bulan. Lalu, saya melanjutkan pendidikan profesi apoteker dan lulus September 2013," beber alumni Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFAR) Yayasan Pharmasi Semarang itu.
Sempat 'nyambi' terjun di dunia entertainment, menjadi model dan bermain di sitkom televisi swasta nasional, Ita akhirnya mantap bekerja di dunia obat. Sebelum diambil sumpah sebagai apoteker, dia sudah diterima bekerja di apotek Kimia Farma Pemuda Semarang. "Sampai sekarang saya berkarya di sini (Kimia Farma Pemuda)," imbuh dia.
Tanggung jawabnya tidak hanya terkait obat. Dia merangkap sebagai marketing klinik yang baru saja dibuka Januari lalu. Ita pula yang mengawali pembukaan klinik dan mengurus segala perizinan. "Saya dan satu orang atasan saya yang ribet mengurus birokrasi hingga akhirnya klinik buka," aku Ita.
Saat ini, dia merupakan ujung tombak Klinik Kimia Farma agar bisa dikenal masyarakat Semarang. Meski double job, sebagai apoteker dan marketing klinik, Ita tidak merasa terbeban. "Pekerjaan sebagai marketing sesuai harapan karena kebetulan saya suka bertemu orang-orang baru," kata dara kelahiran Semarang, 22 Juni 1990 itu.
Dalam hal menjaring klien, dara yang hobi shopping ini memiliki trik khusus. Kesamaan antara dirinya dan calon pengguna klinik menjadi celah dia menggaet calon klien. Dia menyadari, mengajak kerjasama seseorang tidak boleh lewat paksaan. Selain metode pendekatan diri, Ita menunjukkan keunggulan klinik tempat dia bekerja.
"Saya meyakinkan kepada lembaga atau instansi yang saya tawari kerjasama bahwa mereka akan ditangani dokter yang bertanggungjawab dan berpengalaman. Di sini juga langsung tersedia obat, dan sudah ada laboratorium," jelas dara berambut panjang itu.
Selain menjaring pihak yang bisa diajak kerjasama, secara formal, Ita duduk sebagai penanggungjawab ruang farmasi. Sehari-hari, dia bertugas membuat formularium sesuai latar belakang pendidikan. "Formularium itu daftar nama-nama obat yang harus ditulis dokter saat membuat resep. Jadi saya harus kompromi dengan dokter terlebih dulu," ujar Ita.
Tidak hanya memasarkan klinik yang baru dibuka, dia juga dituntut memasarkan outlet baru. Sehingga, penjualan yang dilakukan setara apotek lama. Ita pun menganggap semua pekerjaan itu bukan sebagai beban yang membuat dia menyerah. "Kalau didukung suasana kerja nyaman, bisa menimbulkan rasa betah bekerja," ucap dara yang juga hobi travelling itu. (Tribun Jateng cetak/lin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-obat-racikan_20160809_221357.jpg)