Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Berawal Dari Gunting dan Kertas, Siswa Semarang Mengurai Makna Utang Negara

Lantai Anjungan Kota Semarang di Grand Maerokoco dipenuhi potongan kertas, spidol warna-warni

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUN JATENG/budi susanto
PEMBUATAN MADING – Calvin (kanan) memantau proses kreatif siswa SMP saat menyusun mading bertema “Hutang Negara, Buat Apa?” dalam ajang Wall Gallery Competition di Semarang, Jumat (10/4). Melalui kegiatan ini, pelajar diajak memahami konsep keuangan negara dengan pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian. (TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lantai Anjungan Kota Semarang di Grand Maerokoco dipenuhi potongan kertas, spidol warna-warni, dan suara diskusi yang mengalir ringan. 

Ratusan siswa SMP duduk berkelompok, sebagian bersila, sebagian lagi menunduk serius di depan papan mading. 

Di ruang yang biasanya lengang itu, belajar terasa hidup, ramai, cair, dan penuh rasa ingin tahu.

Tak ada buku tebal atau rumus rumit. Yang ada justru gambar, potongan data, dan kalimat sederhana yang mereka susun menjadi satu cerita besar, tentang utang negara.

Tema “Hutang Negara, Buat Apa?” mungkin terdengar berat untuk usia mereka.

Namun di tangan 42 tim dari 42 SMP se-Kota Semarang, topik itu berubah menjadi visual yang mudah dipahami. 

Ada yang menggambarkannya lewat ilustrasi pembangunan jalan, ada pula yang menuliskan alur perputaran uang negara dalam bentuk diagram sederhana.

Di salah satu sudut, Aquila Najda dari SMPN 4 Semarang tampak fokus menempel potongan kertas di papan madingnya.

Sesekali ia berdiskusi dengan teman satu tim, lalu kembali merapikan susunan ide mereka.

Baca juga: Tampang Jukir Kota Lama Semarang Ngepruk Wisatawan Rp40 Ribu, Tak Ditahan Polisi Cuma Dibina

“Seru sekali. Ternyata utang negara itu bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan,” katanya singkat, sambil tersenyum, Jumat (10/4).

Bagi Aquila, dan banyak siswa lain di ruangan itu, ini bukan sekadar lomba. Ini pengalaman pertama mereka memahami isu besar dengan cara yang dekat dengan keseharian.

Kegiatan Wall Gallery Competition yang digagas Inveskids bersama MGMP IPS dan Dinas Pendidikan Kota Semarang memang dirancang berbeda. 

Mading dipilih sebagai medium, bukan tanpa alasan.

Dari situ, siswa diajak untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolah dan menyampaikannya kembali dengan cara mereka sendiri.

Di antara kerumunan, Calvin pelajar 16 tahun dari SMA Jakarta Intercultural School (JIS) sekaligus penggagas Inveskids terlihat mengamati jalannya proses. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved