Penjualan e-Ticketing Bus Trans Semarang Mulai Hari ini
semua masyarakat bisa menikmati teknologi baru dalam bertransportasi
Penulis: bakti buwono budiasto | Editor: agung yulianto
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Setelah tertunda sepekan, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang, Bambang Kuntarso menjanjikan, Senin (17/2/2014) ini, operasional e-ticketing sudah bisa dimulai.
"Insya Allah sudah siap semuanya, doakan ya," katanya saat dihubungi Tribun Jateng, Minggu (16/2/2014) siang.
Ia menyatakan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bus Trans Semarang sudah siap. Mereka terus diberi pembekalan hingga kemarin agar saat pengoperasian lancar.
Bambang berujar, ada pemeriksaan teknis yang harus dilakukan usai peluncuran tiket elektronik angkutan massal yang nyaman itu. Alat e-ticketing yang terpasang di 46 bus diperiksa satu persatu. Pihaknya mencari kendala teknis yang terjadi.
"Sebelumnya, pada saat serah terima alat itu dalam kondisi bagus. Namun saat Pak Wali Kota mencoba justru malah tidak berfungsi. Karena itu kami perbaiki lagi," ucapnya.
Ia menyebut, pos penjualan e-ticketing akan dibuka serentak di tiga selter yaitu selter Simpanglima, selter Balai Kota, dan selter SMAN 5 Semarang. Lalu ada juga pos penjualan di Terminal Mangkang serta terminal lain, semisal terminal Sisemut, Penggaron, ataupun Terboyo.
Bambang berharap tidak ada masalah lagi dalam pengoperasioan terobosan dalam sistem pembayaran angkutan umum di Kota Semarang kali ini. "Kami juga berharap semua masyarakat bisa menikmati teknologi baru dalam bertransportasi," paparnya.
Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Hendrar Prihadi meluncurkan kartu elektronik sebagai sistem pembayaran naik BRT melalui sistem deposit pada Selasa (11/2/2014).
Ada dua kategori tiket yaitu harga umum yaitu Rp 3.500 sekali perjalanan dan pelajar Rp 1.000. Pembelian minimal adalah lima kali perjalanan. Setiap lima kali perjalanan mendapat bonus satu perjalanan dan kelipatannya.
Penumpang yang telah membeli kartu tersebut sebesar nominal tertentu tinggal menempelkan pada alat scanner yang terpasang di masing-masing bus. Alat ini bertujuan untuk memudahkan penumpang dalam melakukan pembayaran serta memudahkan dalam pengumpulan data jumlah penumpang bagi pengelola BRT.
Hanya saja, seusai peluncuran, kartu tersebut belum bisa langsung dipergunakan. Manajemen BRT menunda karena beralasan petugas yang yang akan menjalankan sistem tersebut belum siap.
Terpisah, tertundanya operasional e-ticketing karena kemampuan SDM yang terbatas hendaknya bisa segera diantisipasi. Dengan kian berkembangnya penggunaan teknologi oleh pengelola BRT maka di masa mendatang, saat ada rekrutmen pegawai harus bisa lebih baik lagi.
"Untuk menerapkan suatu sistem baru, memang seharusnya terlebih dahulu dilakukan ujicoba. Ketika saya mendampingi sistem e-ticketing kereta api di Jakarta, uji coba terus dilakukan sebelum diluncurkan," katanya.
Saat peluncuran pun bukan berarti tidak ada masalah. Hal itulah yang seharusnya juga dilakukan Trans Semarang. Sistem e-tiketing harus diujicoba dulu. Setelah dirasa siap baru diluncurkan.
"Terkait acara peluncuran, lalu kemudian tidak diterapkan, saya berharap Dishubkominfo jujur pada masyarakat kendala apa yang dihadapi. Lalu ada perbaikan ke dalam (internal) yang benar-benar matang. Jangan tergesa-gesa lagi," tandas Djoko.
Sementara itu, pemberlakuan sistem e-ticketingini juga menarik minat investor dalam bentuk sponsorship. Perusahaan Batik Jayakarta turut membantu penerbitan 1.500 lembar e-ticketing. "Sebagai gantinya, nama kami tercantum di lembaran e-ticketing," tutur pengelola Batik Jayakarta, Agus Santoso.
Ia menuturkan, hanya ingin turut serta dalam program pemerintah. Menurutnya, e-ticketing merupakan program yang bagus karena itulah ia tertarik menjadi sponsor. (Tribun Jateng cetak/bbb)