Smart Shopping
Ani Ingin Ciptakan Tren Aksesoris Sendiri
Kuncinya asal pas padu padannya dan tidak norak, bisa jadi bagus
Penulis: muslimah | Editor: agung yulianto
AKSESORI menjadi bagian tak terpisahkan dari Ani Wulandari. Entah itu kalung, gelang atau sekedar cincin, pasti setiap hari harus ada yang menempel di tubuhnya, mempercantik penampilannya. Kalau tidak, serasa ada yang kurang karena penampilan jadi monoton.
Selera aksesori Ani juga termasuk unik. Ia tak suka mengikuti mainstream atau tren yang tengah digandrungi pada suatu waktu. Kalau bisa, gadis lulusan DIII Manajemen Informatika Udinus ini justru ingin menciptakan tren sendiri.
Seperti yang saat ini tengah ia gemari, yakni kalung suku indian. Unik dan sangat etnik. Sebagian besar koleksinya terbuat dari kain dan batu-batuan. Dan yang jelas, sulit mencari orang yang memiliki aksesoris sama seperti yang ia kenakan.
"Dalam membeli aksesoris, aku memang tidak mau mengikuti mainstream. Karena tren biasanya tidak bertahan lama. Setelah tren tersebut lewat, jadinya terkesan kuno. Aku suka aksesoris yang tak lekang oleh waktu dan bisa dipakai kapan saja," ujar Ani Wulandari kepada Tribun Jateng.
Ia pun banyak berburu aksesoris dari berbagai daerah. Setiap pergi ke suatu kota, pasti yang dicari Ani adalah aksesoris khas daerah tersebut. Uniknya, ia jarang membeli di Semarang karena menurutnya sulit menemukan yang sesuai seleranya.
Soal harga, Ani juga tak menjadikan sebagai patokan. Menurutnya, ia bahkan kerapkali menemukan aksesoris bagus namun tidak mahal. Harga di kisaran puluhan ribu rupiah.
"Kuncinya asal pas padu padannya dan tidak norak, bisa jadi bagus. Jadi tidak mesti harus yang nyeleneh apalagi mahal," tandasnya.
Karena hobi belanja aksesoris inilah, lama kelamaan Ani terinspirasi membuat sendiri aneka aksesorisnya. Ia melakukan itu dengan pertimbangan jika membuat sendiri, pasti tidak ada yang menyamai. Ide ia dapatkan dari kunjungannya ke berbagai daerah. Apa yang ada di tempat tersebut mengilhaminya menciptakan aksesoris baru.
"Jadi sekarang aku lebih suka beli bahannya. Kemudian kurangkai sendiri jadi berbagai aksesoris. Cara ini lebih efektif karena aku juga bisa memadankan dengan baju-baju yang kumiliki atau untuk dibawa kemana aksesoris tersebut," imbuh Ani.
Karya-karya Ani ternyata banyak menarik minat rekan-rekannya. Karena itulah, Ani akhirnya memutuskan membuka usaha menjual aksesoris hand made. Ia memberi label Tepeeace pada aksesori hasil karyanya. (Tribun Jateng cetak/msi)