Kamis, 9 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Happy Ramadan

Lidia Siapkan Meriam Bumbung di Depan Hotel @Hom

Kawasan jalan depan Hotel @Hom Pandanaran Semarang, Kamis (3/7/2014) sore terlihat padat merayap.

Penulis: m alfi mahsun | Editor: rustam aji

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Alfi Mahsun

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kawasan jalan depan Hotel @Hom Pandanaran Semarang, Kamis (3/7/2014) sore terlihat padat merayap. Beberapa kendaraan yang melintas sengaja memelankan laju untuk menghampiri karyawan hotel yang sigap membagikan takjil berupa segelas es buah untuk berbuka puasa.

"Dooor, dooor," suara letusan juga beberapa kali terdengar dari arah depan hotel @Hom Pandanaran Semarang. Menurut Humas hotel @Hom, Lidia, itu untuk menyemarakkan prosesi pembagian takjil pihaknya memasang dan membunyikan mainan tradisional semarang, meriam bumbung.

"Ini hari pertama kami bagi-bagi takjil dan dibarengi prosesi menyalakan mercon bumbung. Kegiatan ini akan akan rutin kami lakukan hingga akhir Ramadan nanti," ujar Lidia saat ditemui di depan hotel.

Dipilih meriam bumbung karena mainan khas Semarangan itu identik dengan buka puasa. "Kami melihat ada budaya Semarang yang hampir tenggelam dan tidak di mainkan. Kami kembali memunculkan meriam bumbung agar semangat Semarangan bisa menggeliat lagi," jelas Lidia.

Ada sepasang meriam bumbung yang dibuat. Lengkap dengan kentongan dan gong sebagai alat muusik pengiring, para karyawan memainkan alat musik dan meriam bumbung secara bersamaan.

"Waah, seru seperti zaman dulu ada meriam bumbung. Tapi dulu mainnya di kebun atau halaman rumah. Ini di depn hotel, cukup mengingatkan nostalgia zaman dulu," ujar Rosihan, pebecak yang berhenti sejenak berbuka puasa di depan hotel @Hom.

Selain Rosihan, pejalan kaki Ahmad Hidayah mengaku senang dengan kemeriahan acara yang diselenggarakan hotel @Hom. "Alhamdulillah sedang lewat tadi ada yang beri takjil. Bisa buat buka puasa," ujar Ahmad.

Pembuat Meriam Bumbung hotel @Hom, Hari Santoso mengaku butuh 2 minggu untuk membuat alat mainan tradisional Semarang itu. "Beli bambu empat Rp 50.000, rencana buat dua pasang cuma jadi sepasang. Yang sepasang tidak bisa bunyi," ujar Chief Security @Hom itu.

Hari mengatakan hal yang paling sulit dalam membuat meriam bumbung adalah membuat lubang tengahnya supaya berbunyi. "Ini alhamdulillah jadi dua. Tiap hari akan di pasang. Sekalian juga ada iringan musik tradisional dari 3 orang karyawan. Yang bertugas menyalakan meriam dua orang," ujarnya semangat. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved