SUCCESS STORY
Kisah Sukses Ivana Suprana Memimpin Jamu Jago
Kisah Sukses Ivana Suprana Memimpin Jamu Jago
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM - Memimpin perusahaan yang sudah besar diakui Ivana Suprana menjadi beban. Apalagi, tanggungjawab itu diterima di usianya yang saat itu masih muda, 27 tahun.
Wanita kelahiran Semarang, 25 Agustus 1983 itu berujar, mengokohkan PT Jamu Jago di pasar nasional dan internasional merupakan tugas yang harus diemban. “Itu semua amanat dan kepercayaan yang harus saya dan saudara-saudara saya jaga. Kami harus mampu menjawab dan terus membuktikan secara konkret dapat selalu bersaing dengan kompetitor,” kata Ivana.
Awalnya, tidak mudah. Dia harus bisa beradaptasi di posisi baru meski karir di perusahaan keluarga itu sudah dimulai sejak 2007. Tanpa rasa sungkan dan canggung, Ivana mulai berbaur bersama ratusan karyawan yang mayoritas lebih senior dari segi umur dan pengalaman kerja.
“Saya memang pemimpin di perusahaan ini. Tetapi saya butuh mereka memajukan perusahaan. Karenanya, saya tidak mau saklek dan berusaha selalu luangkan waktu santai bersama mereka. Tidak melulu membahas pekerjaan,” ungkap alumnus Teknik Kimia Universitas Parahyangan Bandung tersebut.
Tak jarang, dia ikut nimbrung saat bawahan makan siang atau minum kopi. Kesempatan ini dimanfaatkan Ivana untuk bercanda dan lebih akrab dengan mereka. Mereka juga menggelar acara rutin yang mengutamakan kebersamaan, di antaranya, tasyakuran HUT Jamu Jago, halalbihalal, pengajian, dan bakti sosial. Acara ini juga melibatkan agen dan distributor yang tersebar di Nusantara.
“Saya meyakini, kegiatan kekeluargaan itu dapat membuat kami semakin kuat dan kokoh mengembangkan perusahaan. Sampai kapanpun, kultur itu akan terus kami pertahankan. Di Jamu Jago, tidak ada atasan atau bawahan. Itu hanya ada secara tertulis,” ujar wanita yang berkantor di Jalan Ki Mangunsarkoro Nomor 106 Semarang itu.
Benar saja, cara ini ampuh meminimalkan konflik, baik internal keluarga, karyawan atau dengan pihak agen. Masing-masing, secara cair dan leluasa dapat menempatkan diri secara professional di dalam perusahaan. Tanpa paksaan maupun tekanan, semua lapisan pegawai bergotong royong membangun perusahaan jamu yang didirikan pada 1918 oleh TK Suprana tersebut.
“Itu ilmu kami. Ilmu yang didapat dari petuah pendahulu yang memegang teguh falsafah Jawa. Ada kalanya kami butuh refreshing karena jenuh. Tapi, tetap professional. Jangan sampai santai tersebut keblabasan yang bisa merusak kinerja perusahaan,” ucapnya.
Dan ketika kelak dirasa perlu menyerahkan jabatan Direktur Utama PT Jamu Jago ke generasi selanjutnya, Ivana berkomitmen bakal tetap di balik layar perusahaan. Menurutnya, sudah menjadi kewajiban memberi dukungan mengibarkan bendera Jamu Jago hingga pasar internasional, tanpa diminta.
“Meski tidak lagi duduk di kursi ini (direktur utama), saya akan berkarya dan bersama jamu Indonesia, Jamu Jago,” tegasnya. (deni setiawan)