Usai Ruwatan, Wali Kota Tegal Kemudikan Kapal Polair
ruwatan juga sebagai ajang pelestarian budaya, karena bukan hanya kegiatan larung sesaji yang dilakukan tetapi juga pentas seni dan budaya Kota Tegal
Penulis: YS adi nugroho | Editor: rustam aji
Laporan Wartawan Tribun Jateng, YS Adi Nugroho
TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Acara Ruwatan Pantai Alam Indah Tahun 2014 di PAI Kota Tegal, Minggu (14/9/2014) dihadiri anggota Forkopinda, kepala SKPD terkait, tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga serta pengunjung PAI.
“Upacara ini merupakan manifestasi rasa syukur kita kepada Allah SWT, dan sebagai sebuah upaya dalam menggali khasanah budaya yang ada di Kota Tegal, sekaligus menjadi pelestari budaya yang wajib kita lakukan,” kata Wali Kota Tegal, Siti Masita Soeparno, dalam sambutannya .
Ruwatan Pantai Alam Indah (PAI) kini telah menjadi tradisi tahunan, yang mengandung filosofi sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus pemanjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan berdoa, diharapkan orang yang berwisata di PAI tidak mendapat musibah.
Selain itu, ruwatan juga sebagai ajang pelestarian budaya, karena bukan hanya kegiatan larung sesaji yang dilakukan tetapi juga pentas seni dan budaya Kota Tegal.
Wali Kota juga mengharapkan dengan terselenggaranya ruwatan ini dapat lebih mengenalkan objek wisata PAI ke semua lapisan masyarakat, sehingga dapat mendorong tumbuhkembangnya kepariwisataan di Kota Tegal.
“Untuk itu, bagi segenap aparatur pemerintah yang bertugas disini, buatlah wisatawan yang datang itu nyaman dan aman. Artinya nyaman ketika berwisata dan aman ketika beraktivitas di lingkungan PAI,” pintanya dalam press release, Minggu (14/9/2014).
Kepala Dinporabudpar Kota Tegal,R Supriyanta menyebutkan ruwatan sudah sejak lama dilaksanakan oleh masyarakat Kota Tegal khususnya PAI. Ruwatan saat itu sebagai upaya tolak bala memohon dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pelaksanaan ruwatan dahulu dilaksanakan secara swadaya. Sejak tahun 2011, Pemerintah Kota memberi kepedulian kepada masyarakat sekitar PAI dengan bantuan APBD melalui Pemkot Tegal sehingga telah terlaksanakan empat kali hingga tahun 2014 ini.
Sementara itu, Ketua Panitia Ruwatan Nurngudiono, awalnya ruwatan yang sebelum tahun 2011 ruwatan sudah tidak dilaksanakan lagi, namun sejak terjadi korban meninggal di PAI tahun itu, maka masyarakat mengadakan ruwatan kembali dengan tujuan memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Kota Tegal dan pengunjung PAI diberi keselamatan.
Nurngudiono menegaskan dengan ruwatan ini tidak ingin angkat syirik tapi budayanya yang diangkat. Dibuktikan dengan kepala hewan yang dilarung bukan kepala hewan asli. “Sisi syirik kita buang, sisi budaya kita angkat. Intinya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tegas Nurngudiono.
Dalam acara ruwatan PAI juga dimeriahkan Jaran Lumping dari Group Marga Jaya Kecamatan Margadana, Balo-balo pesisiran Istiqomah dari Kelurahan Panggung pimpinan Tambarui Gustam, Tari Ruwatan Pesisir yang dibawakan Komunitas Seni Kolaborasi Kota Tegal pimpinan Drs. Andi Bima Nirwana. (*)