SUCCESS STORY
Ini Strategi Edi Noersasongko Besarkan Udinus Semarang
Ini Strategi Edi Noersasongko Besarkan Udinus Semarang
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Bermula merintis lembaga pendidikan komputer kemudian menjadi akademi dilanjutkan sekolah tinggi dan sekarang telah berwujud Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang tentu perlu kerja keras dan strategi cerdas. Berikut ini strategi Edi Noersosongko pemilik sekaligus rektor Udinus Semarang beberkan strateginya.
Strategi apa yang Anda terapkan agar Udinus semakin dikenal luas?
Semaksimal mungkin kami menjaga mutu. Paling berat, mencari mahasiswa baru kemudian membuat alumni diterima masyarakat.
Dari tantangan itu, saya mencari celah. Melakukan kerja sama dengan seluruh pihak. Entah itu di sektor pemerintahan, pendidikan, atau sektor lain. Baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Misal, ketika Udinus menjalin kerja sama dengan ITB Bandung, tentu masyarakat bisa melihat Udinus bukan kampus kecil tetapi memiliki jaringan luas. Image itu yang menjadi modal dasar memperoleh mahasiswa baru tiap tahun.
Apalagi, bagi saya yang mengikuti konsep Islam. Jalinan kemitraan itu bagian dari silaturahmi. Melalui itu, bisa memperpanjang umur, menambah rejeki, hingga mengurangi dosa. Karena itu, saya tidak pernah sungkan menjalin kerja sama dengan siapapun. Potensi atau peluang itu selalu saya ambil demi peningkatan mutu dan kualitas kampus.
Kini, saya memiliki 600 karyawan, 11.500 mahasiswa. Setiap tahun, setidaknya bisa meluluskan sekitar 2.000 mahasiswa.
Ada puluhan perguruan tinggi di tujuh negara yang telah bekerja sama, yakni di Malaysia, Thailand, Taiwan, Tiongkok, Korea, Jepang, dan Filipina. Di dalam negeri hampir semua kampus, baik PTN (perguruan tinggi negeri) maupun PTS (perguruan tinggi swasta) kami gandeng.
Bagaimana Anda memandang persaingan di dunia pendidikan?
Wajar dan biasa. Saya melihat, persaingan di dunia pendidikan tidak sekeras di dunia media. Perguruan tinggi masih ada batasan-batasannya. Jika di media, lebih terkesan brutal karena selama ini tidak ada batasan jumlah pembaca atau mau dibentuk apa, tetap dapat izin. Alasan itu pula yang mendorong saya memilih dunia pendidikan, bukan yang lain.
Untuk meningkatkan daya saing, tentu kami punya program unggulan. Di antaranya, student mobility selama satu semester hingga satu tahun. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan mereka. Bisa dalam bentuk praktik industri di perusahaan-perusahaan ternama di Jepang maupun Korea. Sehingga, setelah kuliah, mereka bisa mempraktikan di perusahaan pilihan atau menularkan ke rekan mahasiswa. Syukur-syukur bisa merintis usaha. Tahun ini, ada 53 mahasiswa yang saya kirim ke luar negeri. (bersambung)
Akses Berita Tribun Jateng di
media sosial Facebook Tribun Jateng