Ria Apresiasi Pemkot Bersihkan Lapak Sementara Pasar Bulu
"Kinclong," jawaban singkat pedagang sembako, Ria saat menanggapi pertanyaan Tribun Jateng terkait kondisi lingkungan sekitar bangunan Pasar Bulu
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: rustam aji
Laporan Reporter Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Kinclong," jawaban singkat pedagang sembako, Ria saat menanggapi pertanyaan Tribun Jateng terkait kondisi lingkungan sekitar bangunan Pasar Bulu beberapa waktu lalu. Ria mengapresiasi kinerja Pemerintah Kota Semarang dalam penataan lingkungan sekitar pasar yang berlokasi di sebelah utara Tugu Muda itu.
Ria mengatakan cukup puas melihat kondisi lingkungan sekitar bangunan Pasar Bulu kini. Terlebih, setelah beberapa kali mengamati sekitar kiosnya, ia berpendapat pemandangan sekitar lebih baik dari sebelumnya.
"Bangunan pasar tampak bagus, pemandangan sekitarnya cukup bersih sekarang. Seharusnya Pasar Bulu memang seperti ini, agar semakin memikat masyarakat Kota Semarang khususnya untuk tetap berbelanja di pasar tradisional. Salut untuk pemkot Semarang," ujarnya.
Wanita yang menyewa kios di kawasan Jalan Cokroaminoto itu menceritakan kondisi lingkungan pasar sebelumnya sangat kumuh. Ia menyayangkan kurangnya perhatian dan penataan dari dinas terkait terhadap para pedagang yang menempati lapak-lapak di sekitar pasar.
Menurutnya, pengelola pasar harus memerhatikan nasib para pedagang. Tidak lepas tangan begitu saja, seakan-akan para pedagang dibiarkan menentukan nasib dagangannya sendiri tanpa ada dukungan fasilitas dari pengelola.
"Sudah hampir tiga tahun ini para pedagang mendiami lapak-lapak di luar pasar. Kurangnya penataan dan perhatian dari pihak terkait menyebabkan lapak-lapak itu terlihat kumuh. Setahu saya, mereka membangun lapak dengan kemampuan sendiri. Mulai dari bahan-bahan material sampai tenaga, ditanggung pribadi," jelasnya sembari mengoreksi daftar dagangan.
Ria menerangkan ada ratusan deret lapak di sepanjang kawasan itu didiami para pedagang bervariasi komoditi. Ada pedagang kain, sembako, sayur mayur, buah-buahan, dan lainya dalam satu blok. Kurangnya penataan dan perhatian dinas terkait, imbuhnya, menimbulkan pula permasalahan baru, pembengkakan sampah.
Ia mengatakan sempat merasa khawatir akan kondisi lingkungan sekitar kiosnya. Selain bau kurang sedap yang dihasilkan oleh sampah, ia juga harus menghadapi masalah lainnya, hewan liar.
"Sebelumnya, setiap pagi saya harus membuang empat hingga lima bangkai tikus yang masuk ke perangkap. Di dalam kios sudah saya pasangi beberapa perangkap dan racun. Kemunculan hewan-hewan itu saya khawatirkan bisa merusak barang-barang dagangan. Namun setelah lapak-lapak mulai dibersihkan dan dibongkar beberapa waktu, tikus, kecoa dan hewan-hewan lain lenyap. Saya sangat puas, kekhawatiran hewan lain lenyap. Saya sangat puas, kekhawatiran mulai hilang," bebernya. (*)