Tribun Community

Sugar Glider Hewan Khas Papua Berbulu Lembut Menggemaskan

Sugar Glider Hewan Khas Papua Berbulu Lembut Menggemaskan

Sugar Glider Hewan Khas Papua Berbulu Lembut Menggemaskan
tribunjateng/dok/ist
Sugar Glider Hewan Khas Papua Berbulu Lembut Menggemaskan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Hewan khas Papua, sugar glider juga digandrungi di Semarang. Sejumlah penggemarnya bahkan kini menangkarnya.

Untung Nugroho mengarahkan ponsel miliknya kepada teman-teman Komunitas Pencinta Sugar Glider Indonesia Regional Semarang (KPSGI) yang berkumpul di Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Semarang. Terlihat video binatang sugar glider (SG) miliknya secara perlahan keluar dari jeruji kandang besi.

"SG itu hewan yang sangat cerdik. Meski diberi kandang besi dia akan mencari celah sisi mana besi yang bisa dilewati tubuhnya. Karena itu biasanya pemilik sugar glider mencari kandang dari besi yang lebih rapat dan bergembok. Walau sudah rapat tapi tak bergembok, SG masih bisa keluar," kata Untung pada rekan-rekannya, Kamis (5/2) malam.

Pria kelahiran Semarang 20 Agustus 1980 itu, datang berkumpul bersama rekan-rekannya di rumah koordinator KPSGI Regional Semarang, Rahardian Rizqi, untuk berdiskusi mengenai hewan yang punya nama lain posum melayang tersebut. Perawatan soal cara potong kuku sugar glider pun menjadi bahasan menarik setelah menonton video tersebut.

"Selain cerdik SG juga sangat membutuhkan kebersihan. Jika tidak bersih beragam virus bisa menyerangnya dan bisa mati. Sayang sekali SG yang dibeli dengan harga mahal tapi tidak dirawat oleh pemiliknya. Untuk catatan belum banyak dokter hewan yang mengerti mengenai SG di Semarang," lanjut Untung
Pengalaman kurang mengenakkan memang pernah dialami warga Serayu Kelurahan Bugangan Kecamatan Semarang Timur tersebut. Kali pertama tertarik dengan sugar glider di tahun 2013 dirinya salah membeli dan terkena tipu.

Sugar glider pertama yang dia beli seharga Rp 600 ribu di Jakarta ternyata giginya sudah dipotong. Padahal jika gigi dipotong akan berakibat binatang nocturnal tersebut mengalami pembengkakan gusi. Sehingga terkena virus dan akhirnya mati.

"Jadi para pedagang itu ada yang berlaku curang. Gigi dipotong agar SG bisa cepat jinak alias tidak menggigit. Padahal dengan dipotong gigi depannya akan membuat SG susah makan dan mengalami pembengkakan gusi," cerita Untung.

Saat itu dia coba bawa ke dokter hewan ternyata dokter hewan tidak mengerti penanganan sugar glider. "Sejak saat itu komunitas lah yang membuat saya belajar mengenai perawatan SG dan sampai saat ini bisa beternak. Sayang banget binatang lucu, cerdik, dan menggemaskan ini mati karena kita salah beli atau tidak terawat," imbuh Untung.

Padahal untuk menjinakkan sugar glider cukup mudah. Yaitu dengan membiasakannya pada pemilik karena hewan tersebut bisa terbiasa dengan aroma tubuh yang akrab dengannya.

"Seperti ayam, kalau mematuk itu bukan sakit tapi membuat kaget. Sama, SG juga menggigit tapi tidak menyakitkan. Lebih mudah memelihara SG dari anakan. Lebih mudah lagi dijinakkan," ujar Untung.
Karyawan Perusahaan Asuransi Prudential tersebut kini telah memiliki sekitar 13 pasang sugar glider yang dia taruh dalam 13 kandang. Setelah kejadian sugar glider mati, dia mulai konsultasi kepada teman-temannya di KPSGI Regional Semarang mengenai perawatan dan penangkaran.

"Saya awal beli empat ekor anakan SG grey yang untuk ternakan. Sampai bisa ada sekitar 26 ekor sekarang. Itupun. Belum termasuk ada yang lari karena bisa menerobos kandang besi itu tadi," imbuh Untung lalu tertawa.

Dia menyarankan pada pemula penyuka sugar glider untuk memulai membeli anakan. Meski harganya cukup mahal tapi jika dirawat secara baik bisa banyak menghasilkan banyak sugar glider.
"Beli sepasang joey (anakan) lalu telaten bisa nanti berkembang biak. SG adalah hewan yang eksotik. Dia hewan asli Indonesia. Perlu dilestarikan dan jangan mau diklaim sebagai hewan dari Thailand seperti yang kadang dibilang oleh penjual SG di pasaran. Ikut komunitas akan lebih baik," kata Untung. (Tribunjateng/Muhamad Alfi M)

Penulis: m alfi mahsun
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved