SUCCESS STORY
Ikon Mbah Jingkrak Hasil dari Salah Sebut Nama Malah Jadi Unik
Ikon Kuliner Mbah Jingkrak Adalah Hasil Sketsa Ajeng Sendiri
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Modal awal Ajeng Astri Denaya memulai bisnis kuliner hanya Rp 14 juta. Kini Mbah Jingkrak ikon bisnis kulinernya sudah buka cabang di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Pekanbaru, dan Bali. Dulu otodidak buka steak kemudian berkembang kuliner tradisional.
Dari steak ke masakan tradisional, bagaimana ceritanya?
Meski Bentuman meroket, ada sebagian konsumen yang mulai bosan apabila datang sekadar menikmati daging tanpa nasi. Mereka request agar di warung tersebut juga menyediakan nasi. Dari itu, ide kembali muncul, tidak ada salahnya menghadirkan masakan ala rumahan di sini. Tepat pada 1 Desember 2005, Mbah Jingkrak resmi dibuka, bersebelahan dengan Bentuman.
Ternyata, ide tersebut sama beruntungnya dengan Bentuman. Masakan serba tradisional yang saya sajikan juga memperoleh respon luar biasa dari para konsumen. Agar lebih menarik, nama-nama menu yang disajikan agak aneh. Termasuk, pemilihan nama rumah makan, Mbah Jingkrak.
Penamaan Mbah Jingkrak itu berawal saat saya bersama suami--Hendry Pramono--berwisata kuliner di Gunungkidul, Yogyakarta. Di sana ada tempat jualan nasi merah dan sayur tempe lombok ijo bernama Mbak Jirak. Tapi, suami lupa menyebut nama Mbak Jirak dengan sebutan Mbah Jingkrak.
Nama hasil kepleset tersebut ternyata lucu dan menginspirasi. Sesampai di Semarang saya lembur membuat sketsa Mbah Jingkrak. Patung simbol Mbah Jingkrak yang ada di warung sekarang adalah hasil sketsa saya. Nama itu semakin terkenal. Buktinya, orang tidak akan kenal nama Ajeng tetapi lebih ke Mbah Jingkrak.
Alasan apa Mbah Jingkrak juga diwaralabakan?
Ketika belum genap berusia setahun, ada orang Korea datang tertarik membuka warung tersebut di sana. Alasannya, nama tersebut unik dan mudah diingat. Mendengar ada yang tertarik, saya mengatakan harus membeli atau kontrak --konsep franchise--.
Nama Bentuman dan Mbah Jingkrak pun dipatenkan. Tarif untuk waralaba bisnis tersebut saya patok Rp 250 juta untuk tiga tahun. Itu hanya untuk nama atau brand, belum termasuk resep dan lainnya. Sistem yang saya terapkan dalam franchise tersebut, misi harus sama. Mbah Jingkrak sekarang sudah menjadi nama besar, mereka harus mau dan mampu menjaga klien yang telah saya bangun mulai dari nol.
Apabila tidak mampu, lebih baik setelah masa kontrak habis, tidak usah dilanjutkan. Itu merupakan kesepakatan yang saya buat sejak awal. Prinsip, apabila hendak menjalankan bisnis kuliner berkonsep waralaba, jangan sekadar latah, ikut-ikutan. Harus serius melakoni agar tidak gagal atau berguguran sebelum sukses.
Selain waralaba, Mbah Jingkrak juga siap menerima pemula yang hendak membuka bisnis kuliner. Di manapun, saya siap menjadi konsultan mereka. Mulai dari bagaimana membuat makanan enak, bernilai tinggi, menentukan lokasi yang cocok untuk buka, hingga menentukam menu. Soal tabungan menu, saya selalu ada. Ide selalu ada di otak, tidak pernah ada habisnya. (bersambung-menunya tak ada dalam kamus kuliner)