Kredit Macet Mantan Pejabat Bikin BMT Fajar Mulia Bangkrut
Kredit Macet Mantan Pejabat Bikin BMT Fajar Mulia di Kabupaten Semarang Bangkrut
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Fajar Mulia, sebuah lembaga keuangan syariah terkemuka di Kabupaten Semarang mengalami kebangkrutan, setelah ratusan debitur gagal membayar pinjaman mereka yang berjumlah total Rp 3 miliar.
Ironisnya, di antara para debitur macet itu terselip dua bekas pejabat, yaitu Bambang Guritno (BG) yang pernah menjadi Bupati Semarang, serta seorang mantan anggota DPRD Kabupaten Semarang asal Kecamatan Bringin. Menurut catatan BMT Fajar Mulia, Bambang Guritno meminjam uang sebesar Rp 50 juta.
Kepala BMT Fajar Mulia, Winoto menjelaskan, lembaga keuangan syariah yang sudah beroperasi sejak 1996 itu memiliki nasabah sekitar 10.000 orang dengan aset mencapai miliaran rupiah. Namun, tahun ini BMT Fajar Mulia mengalami kesulitan keuangan akibat kredit macet itu.
“Tahun ini kami mengalami kesulitan, kami baru jatuh. (Kantor) Cabang Ambarawa, Bandungan, dan Gunungpati kami tutup. Bahkan, pengurus juga tidak digaji selama sekitar tujuh bulan,” katanya, akhir pekan lalu.
Menurut dia, beberapa debitur yang seret pembayarannya itu antara lain mantan Bupati Semarang Bambang Guritno dan seorang mantan anggota DPRD Kabupaten Semarang. Pengelola BMT Fajar Mulia telah berupaya agar kredit macet ini tidak mengganggu cash flow lembaga itu.
Namun, upaya itu tak berhasil karena nasabah terpancing melakukan rush, atau penarikan uang tunai secara besar-besaran. Padahal, total tabungan nasabah mencapai Rp 7 miliar juga sudah diputar untuk kredit dan aset.
“Kami maklum nasabah khawatir, sehingga sampai seperti ini. Bahkan, setiap hari kami kerepotan harus mengurusi nasabah yang berdatangan untuk menarik tabungannya. Pengurus BMT selain tidak digaji, aset kami juga habis-habisan untuk nomboki pengembalian dana nasabah,” jelas Winoto.
Sejumlah nasabah bahkan telah melaporkan BMT Fajar Mulia ke Mapolres Semarang. Mereka merasa tertipu lantaran dalam beberapa bulan terakhir kesulitan menarik dana atau tabungan.
"Saya dijanjikan tabungan bisa diambil setelah Lebaran. Tapi setelah Lebaran, masih disemayani (dijanjikan-Red) lagi hingga sekarang tidak pernah diberikan uang saya. Tabungan saya sekitar Rp 29 juta," kata Komariah (46).
Komariah yang sehari-hari bekerja sebagai penjual bunga ini menabung di BMT Fajar Mulia cabang Bandungan dengan cara didatangi setiap hari oleh pegawai BMT.
Hal yang sama diungkapkan Ridwan (34). Warga Bandungan itu mengaku mempunyai tabungan di BMT Fajar Mulia sebesar Rp 4,4 juta lebih. Sedianya, pada September lalu, Ridwan hendak menarik seluruh tabungannya untuk keperluan pengobatan orangtuanya.
"Bulan September mau saya ambil semua, tapi mereka menjanjikan bulan Oktober, dan itupun hanya diberikan Rp 1,5 juta saja, sementara sisaya Rp 2,9 juta hingga saat ini belum dikembalikan," katanya.
Kasatreskrim Polres Semarang, AKP Herman Shopian, mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan sejumlah nasabah BMT Fajar Mulia yang dipersulit menarik dana mereka. Saat ini, polisi sedang melakukan pendalaman kasus di BMT Fajar Mulia itu. (tribunjateng/cetak)