Masih Banyak Pengembang Nekat
Ada beberapa kelurahan rawan longsor. Di antaranya Lempongsari, Candi, Randusari, Ngemplak Simongan, Wonosari, Bongsari, Tambakaji, Tinjomojoyo, dll
Penulis: adi prianggoro | Editor: rustam aji
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Iwan Budi Setiawan mengakui masih ada banyak titik yang berisiko terjadi longsor. Titik-titik longsor itu terutama terjadi di daerah permukiman di perbukitan dan di sekitar sungai.
"Ada beberapa kelurahan rawan longsor. Di antaranya Lempongsari, Candi, Randusari, Ngemplak Simongan, Wonosari, Bongsari, Tambakaji, Tinjomojoyo, Jangli, Tandang, dan lainnya," kata Budi.
Budi menerangkan longsor yang terjadi di Kota Semarang biasanya menimpa rumah-rumah yang berada di tebing atau di bawah talut. Hal itu diakibatkan karena talut tidak kuat menampung tanah dan air sehingga akhirnya ambrol.
"Saran saya sebaiknya talut diberi semen padat sehingga tidak ada tanah dan air yang masuk ke talut. Itu bisa mengurangi dampak ambrol meski tidak sepenuhnya aman," kata Budi.
Budi juga menyayangkan sejumlah pengembang perumahan yang nekat membangun rumah-rumah di daerah rawan longsor. Contohnya pembangunan rumah-rumah di sekitar sungai.
"Mestinya pengembang mematuhi aturan radius aman mendirikan perumahan dari sungai. Tetapi nyatanya masih ada beberapa perumahan baru di daerah rawan longsor," ujarnya.
Banjir di Tegowanu surut 50 cm
Selain bencana longsor, beberapa wilayah di Jateng juga mengalami masalah banjir, di antaranya di wilayah Grobogan.
Banjir yang menggenangi dua desa di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, masih belum surut sepenuhnya hingga Selasa (5/5). Namun kemarin malam ketinggian genangan air yang membanjiri Desa Tajemsari dan Desa Karangpasar sudah mulai berkurang.
Seperti diberitakan sebelumnya, kawasan ini lumpuh total akibat terendam banjir dari limpasan air sungai cabean yang mengalir melalui jebolnya satu titik tanggul sepanjang 50 meter.
Kepala Desa Tajemsari, Pujiyanto, menuturkan, volume ketinggian banjir yang telah melumpuhkan seluruh akses di dua desa tersebut telah berangsur mengalami penyusutan. Setidaknya ketinggian air telah berkurang 50 cm.
Menurut dia, penyusutan air tersebut belum begitu berdampak baik bagi warga mengingat ketinggian air masih membahayakan bagi warga. Sejumlah warga tetap dihimbau untuk bertahan di sejumlah titik pengungsian.
"Sejumlah relawan terus berdatangan. Bantuan logistik dari berbagai pihak juga terus masuk. Banjir ini sangat mengerikan. Rumah saya saja rata dengan air, " kata Pujiyanto.
Warga berharap pemerintah segera menyelesaikan perbaikan tanggul sebagai antisipasi melimpasnya air sungai yang tentunya dapat mengakibatkan ketinggian volume banjir bertambah kembali.
"Air sungai cabean sudah berkurang sehingga tidak melimpas. Perbaikan dengan memasang glugu dan sak atau penangkis dam (kisdam) sebagai konstruksi awal menutup tanggul sudah selesai. Jadi air tak bisa masuk, " terang Kepala Dinas PSDA Jateng, Prasetya Budi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/longsor-di-ngaliyan-semarang-8-rumah-rusak-parah_20150505_160227.jpg)