Pasar Johar Terbakar
PKL di Johar Khawatir Tergusur
Sejumlah pedagang mengkaveling sepanjang Jalan Agus Salim di depan Pasar Johar, Selasa (12/5) siang.
Penulis: adi prianggoro | Editor: rustam aji
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejumlah pedagang mengkaveling sepanjang Jalan Agus Salim di depan Pasar Johar, Selasa (12/5) siang. Pemetakan itu dilakukan lewat cara menyemprotkan cat ke aspal dan median jalan.
Pantauan Tribun Jateng, sepanjang Jalan Agus Salim terdapat tulisan nama-nama yang ditulis memakai cat semprot beragam warna. Tidak ada petugas, Satpol PP maupun pegawai Dinas Pasar yang melarang atau mencegah pedagang menyemprotkan cat ke jalan dan median.
Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasanya berjualan di sepanjang Jalan Agus Salim, di depan Pasar Johar, mulai resah. Mereka khawatir bila ratusan pedagang dari Pasar Johar yang kiosnya terbakar akan mendirikan lapak di sepanjang Jalan Agus Salim.
Koordinator PKL yang berada di sepanjang Jalan Agus Salim, Sugiyanto mengatakan bila saat ini jumlah anggotanya ada sekitar 80 pedagang. Mereka berjualan mulai dari pakaian hingga peralatan rumah tangga.
“Biasanya kami berjualan mulai dari depan gedung Matahari hingga Jembatan Berok. Kami tidak mau tergeser oleh pedagang limpasan dari dalam Pasar Johar,” kata Sugiyanto.
Saat ini, sebagian besar PKL belum bisa berjualan karena kondisinya tidak memungkinkan. Sugiyanto dan anggotanya menyaksikan dan mengamati para pedagang Pasar Johar yang mengkaveling ruas Jalan Agus Salim. “Kami berharap pemkot bersifat tegas tentang aturan relokasi ini,” ujarnya.
Saat ditemui Tribun, seseorang yang sedang menyemprotkan cat mengaku sebagai orang suruhan.
"Saya hanya disuruh, pokoknya ada orang yang menyuruh. Saya hanya cari uang," ujar seorang pria muda yang menyemprotkan cat ke aspal.
Pedagang lainnya yang enggan disebutkan namanya mengatakan bila langkah mengecat secara sepihak itu bagian dari kekhawatiran tidak mendapatkan jatah kios.
"Kami belum tahu akan pindah dan dipindah kemana. Kami sih inginnya diperbolehkan menempati jalan ini (Jalan Agus Salim- Red) untuk berdagang sampai setelah Lebaran. Makanya kami bikin petak-petak untuk jaga-jaga saja daripada nanti tidak kebagian tempat," kata pedagang tersebut.
Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) "Sabar Menanti" Pasar Johar, Muchlisan atau akrab dipanggil Robert mengatakan, bila pengecatan itu ilegal.
"Saya sudah diberitahu kalau berjualan di sepanjang Jalan Agus Salim merupakan larangan. Tetapi saya tidak mencegah karena pengecatan itu atas inisiatif pedagang sendiri-sendiri," kata Robert.
Robert mengungkapkan sudah mendapat pemberitahuan kalau area lokasi penampungan sementara ada di beberapa titik. Di antaranya Gedung Matahari Johar lantai 3 dan 4, Gedung Parkir Pedamaran, Pasar Ikan Higenis (PIH) Rejomulyo, dan lantai 3 Pasar Bulu.
“Saya sudah beritahukan kepada teman-teman pedagang. Saat ini baru dilakukan pendataan,” katanya.
Membentuk Kelompok
Pedagang Pasar Johar atas inisiatif mereka membuat kelompok-kelompok dalam pembagian lahan relokasi. Mereka membentuk 13 kelompok kemudian dibagi menjadi regu-regu, yang masing-masing regu terdiri atas 10 pedagang. Kelompok kelompok itu berdasarkan area mereka berjualan di Pasar Johar.
"Ini atas inisiatif kami (pedagang- Red) sendiri. Hasil dari pendataan nantinya akan kami serahkan kepada Dinas Pasar," kata seorang koordinator, Ana Rustiana (42).
Pendataan tersebut dilakukan di depan Semarang Central Johar atau eks-Matahari Johar. Ribuan pedagang berkumpul dan menghampiri masing-masing koordinator. Para pedagang mengumpulkan sejumlah persyaratan, di antaranya kartu keluarga, Surat Izin Dasaran Kios/Lapak, dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Data ini dikumpulkan, saya tulis beserta nomor handphone-nya. Di kelompok saya masih ada 19 pedagang sekarang,” kata Ana.
Terbakarnya Pasar Johar juga memunculkan rasa solidaritas kelompok masyarakat yang kemudian membentuk sebuah lembaga bernama “Selametke Pak Jo”. Mereka terdiri atas akademisi, budayawan, seniman, arsitek, jurnalis, mahasiswa, advokat, dan lainnya.
“Kami peduli karena Pasar Johar menjadi ingatan kolektif masyarakat Semarang maupun mereka yang pernah tinggal atau singgah di Semarang,” kata koordinator kelompok, Rukardi.
Rukardi memaparkan, langkah awal yang akan dilakukannya yakni mendorong pembentukan tim independen untuk meneliti struktur Pasar Johar.
Tim tersebut diharapkan dapat meneliti bangunan beton yang selama ini menjadi indentitas pasar Johar yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 1980an.
Dalam waktu dekat, menurut Rukardi, lembaga “Selametke Pak Jo” akan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). “Upaya mendatangkan BPCB itu mendesak karena terkait dengan pasar Johar sebagai bangunan bersejarah,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/oknum-pedagang-johar-mengkavling-jalan-agus-salim-pakai-cat-semprot_20150512_141044.jpg)