Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mein Kampf, Dianggap Buku Paling Berbahaya di Dunia

Masa berlaku hak cipta buku Mein Kampf karya Adolf Hitler di Jerman berakhir pada penghujung tahun 2015 ini.

Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM - Masa berlaku hak cipta buku Mein Kampf karya Adolf Hitler di Jerman berakhir pada penghujung tahun 2015 ini. Apa yang akan terjadi ketika pihak berwenang tidak lagi dapat mengendalikan penerbitan dan pendistribusiannya? Sebuah program baru BBC mempelajari isu ini.

“Mereka ingin menggantikan Alkitab.” Dengan berbisik di ruang yang senyap di Perpustakaan Negara Bavaria, pakar buku langka Stephan Kellner menggambarkan bagaimana Nazi menjadikan surat panjang lebar bertele-tele dan sebagian besar tak bisa dibaca – yang merupakan setengah memoar dan setengah propaganda itu – menjadi bagian penting dalam ideologi Third Reich (Nazi Jerman).

Saat Mein Kampf bebas dari hak cipta – yang artinya, secara teori, siapa pun dapat menerbitkannya di Jerman – sebuah acara radio di BBC Radio 4 menjelajahi apa yang dapat dilakukan pihak berwenang terhadap salah satu buku yang terkenal paling jahat di dunia itu.

Menurut produser Publish or Burn (Terbitkan atau Bakar), Mein Kampf tetap merupakan buku yang berbahaya.
Melihat ancaman dari awal

“Sejarah tentang Hitler adalah sejarah yang menyepelekannya; dan orang-orang menyepelekan buku ini,” kata John Murphy, yang kakeknya menerjemahkan versi lengkap pertama buku ini ke Bahasa Inggris pada tahun 1936.

“Ada alasan yang baik untuk memperlakukan buku ini dengan serius karena adanya kemungkinan untuk disalahartikan. Meskipun Hitler menulisnya di tahun 1920-an banyak apa yang dikatakannya dalam buku itu, dijalankannya – kalau saja orang-orang lebih memperhatikannya pada saat itu, mungkin mereka sudah dapat melihat ancaman yang ada di dalamnya.”

Hitler memulai menulis Mein Kampf ketika berada di penjara karena dakwaan pengkhianatan setelah gagalnya pemberontakan ‘Beer Hall’ Munich tahun 1923, untuk menyampaikan pandangan rasis dan anti-Semitisme. Begitu Hitler memegang kekuasaan satu dasawarsa kemudian, buku itu menjadi naskah utama Nazi, dengan 12 juta eksemplar dicetak.

Buku itu diberikan kepada para pasangan yang baru menikah oleh negara dan edisi bersampul emas dipamerkan dengan mencolok di rumah-rumah para pejabat senior.

Bisa salah mengartikan
Pada akhir Perang Dunia Dua, ketika Angkatan Darat Amerika Serikat menyita perusahaan penerbit Nazi Eher Verlag, hak cipta Mein Kampf diserahkan kepada pemerintah Bavaria.

Mereka menjamin bahwa buku itu hanya dapat dicetak ulang di Jerman jika ada situasi khusus – namun dengan berakhirnya masa hak cipta buku itu pada bulan Desember 2015, timbullah perdebatan sengit mengenai bagaimana cara mengekang penerbitan buku itu secara gratis untuk semua orang.

“Bavaria menggunakan hak ciptanya untuk mengendalikan penerbitan kembali Mein Kampf tetapi kini pengendalian itu akan berakhir – apa yang nanti akan terjadi?” kata Murphy. “Ini masih merupakan buku yang berbahaya – dan ada masalah dengan neo-Nazis, serta ada bahaya bahwa orang-orang salah menginterpretasikannya jika tidak mengerti konteksnya.”

Pasal dan ayat

Memang ada pertanyaan juga apakah ada orang yang mau menerbitkannya – karena menurut The New Yorker, “Buku ini penuh dengan anak kalimat yang bombastis dan sulit dimengerti, detail-detail sejarah serta utas ideology yang berbelit-belit, yang biasanya cenderung dihindari oleh neo-Nazi dan para ahli sejarah serius.”

Namun buku ini menjadi populer di India di antara para politisi yang memiliki kecenderungan aliran nasionalis Hindu. “Buku ini dipandang sebagai buku penting untuk pengembangan diri,” kata Atrayee Sen, pengajar mata kuliah agama kontemporer dan konflik di Universitas Manchester, kepada Radio 4.

“Jika Anda menanggalkan unsur anti-Semitisme dari buku itu, yang tersisa adalah tentang seorang pria kecil yang berada di penjara dan bermimpi menguasai dunia dan berjuang untuk melakukannya.”

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved