Liputan Khusus
Sekolah Itu Nekat Pakai Jasa Makelar untuk Jaring Siswa
Berbagai cara dilakukan sekolah-sekolah swasta menggaet calon siswa baru, bahkan sejumlah sekolah menggunakan jasa semacam makelar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berbagai cara dilakukan sekolah-sekolah swasta menggaet calon siswa baru, bahkan sejumlah sekolah menggunakan jasa semacam makelar.
Seorang guru sekolah swasta di Kecamatan Pulokulon, Grobogan, Miftahul Huda mengatakan, hampir semua sekolah di Kecamatan Pulokulon berlomba-lomba mendapatkan peserta didik dengan memberi iming-iming uang. "Setiap siswa yang mendaftar akan mendapatkan uang Rp 100 ribu. Sedangkan yang mengantarkan juga dapat uang, hanya besarnya berapa saya kurang tahu," katanya, pekan lalu.
Cara seperti ini, katanya, tidak hanya dilakukan oleh satu sekolah saja. Banyak sekolah swasta setingkat SMP/ MTs dan SMA/ MA/ SMK di Grobogan menggunakan jasa makelar seperti itu. "Sudah beberapa tahun ini lah cara seperti ini dilakukan," jelasnya.
Pemberian uang kepada pengantar calon peserta didik, juga berlaku bagi guru. Sekolah memberikan uang kepada guru yang bisa membawa calon peserta didik.
Diduga sekolah berani mengeluarkan dana demi mendapatkan siswa baru karena mengejar pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Seperti diketahui, besaran dana BOS berdasarkan jumlah siswa.
Seperti diberitakan Tribun Jateng sebelumnya, ada juga sekolah yang memberikan hadiah sepeda jika calon murid mau mendaftar di sekolah tersebut, mengajak pelesir guru para calon siswa berasal, dan bahkan ada pengurus yayasan meminta bantuan paranormal agar sekolahnya ramai pendaftar.
Kepala SMA Bina Nusantara, Kota Semarang, Rio Adi Putranto mengakui terjadi persaingan ketat di antara sekolah-sekolah swasta menggaet siswa. Apalagi sekolahnya termasuk di pinggiran dan fasilitas belum lengkap. Namun Rio mengaku tetap menggunakan cara-cara yang masih normal.
Saat ini tiap jenjang di sekolahnya hanya satu rombongan belajar (rombel). Rinciannya kelas 1 terdiri atas 19 murid, kelas 2 sebanyak 23 murid dan kelas 3 sejumlah 19 murid. "Kami lebih memilih bekerjasama dengan SMP sekitar untuk mencari murid," tuturnya di sekolahnya di jalan Kemantren 4 Kecamatan Ngaliyan.
Ia menjelaskan, bentuk kerjasama itu adalah gurunya diminta ikut mengajar di SMP sekitar. Tapi bukan mengajar pelajaran sekolah melainkan mengajar pelajaran ekstrakurikuler.
Rio mengakui saat itu sekolah-sekolah SMA swasta lebih sulit mencari siswa dibandingkan SMK. "Jujur saja sekarang yang lagi booming SMK," ucapnya.
Kepala SMK Bina Nusantara, Ratih Yuni Arman membenarkan hal itu. Berbeda dengan Rio, ia tidak kesulitan mencari murid. Warga sekitar peminat SMK cukup tinggi. Meski begitu, ia tetap butuh melakukan kegiatan untuk menggaet siswa. "Salah satunya adalah mengadakan les tambahan untuk siswa SMP sekitar jelang ujian nasional secara gratis," katanya.
Berikan beasiswa
Kepala Sekolah SMA Teuku Umar, Kota Semarang, Budi Santosa mempunyai cara tersendiri menggaet siswa baru. Selain memberikan fasilitas uang gedung gratis bagi calon siswa berprestas, baik prestasi akademik mapun olahraga, pihaknya juga memberikan beasiswa.
Bagi murid yang dari segi ekonomi kurang mampu akan diberikan diskon 50 persen uang pendaftaran. Selain itu, murid yang mendapatkan peringkat pertama di tiap kelas akan mendapat beasiswa pembebasan SPP untuk tiga bulan. "Tiap semester kalau peringkat satu dapat pembebasan SPP tiga bulan. Kalau semester berikutnya peringkat satu lagi tetap mendapatkan pembebasan SPP tiga bulan. Selain beasiswa dari yayasan kami juga mempunyai beasiswa dari pemerintah," katanya.
Budi mengatakan sekolah swasta menggantungkan hidupnya dari sumbangan siswa, meskipun saat ini terbantu dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "BOS bisa kami gunakan untuk pembiayaan sifatnya operasional. Sementara gaji dan fasilitas itu tergantung dari pembiayaan siswa," ujarnya.