Pasar Johar Terbakar
Wiyono Jualan Buku dari Johar ke Pasar Bulu Sekarang Sepi Pembeli
Wiyono Jualan Buku dari Johar ke Pasar Bulu Sekarang Sepi Pembeli
Penulis: adi prianggoro | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, A Prianggoro
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang pedagang, Wiyono (35), menunggui kiosnya yang sepi pengunjung di lantai III Pasar Bulu, Jumat (12/06) sore. Seiring matahari mulai terbenam, suasana di dalam kios Wiyono pun mulai gelap. Meski baru dua pembeli yang "mampir", Wiyono tak punya pilihan selain buru-buru menutup kiosnya. "Kami belum mendapat saluran listrik, yang di dalam kiosnya. Maunya segera pasang listrik, tapi belum ada uang," ujarnya singkat seraya berkemas-kemas untuk persiapan menutup kiosnya.
Wiyono merupakan satu di antara pedagang Pasar Johar yang menempati lapak sementara di Pasar Bulu. Tak hanya pengunjungnya yang sepi, barang dagangannya pun sepi atau hanya sedikit saja.
Toko Mandiri, demikian nama kios Wiyono, dibangun atas dana sendiri dan menghabiskan biaya sekitar Rp 650 ribu. Uang yang tersisa dari musibah kebakaran Pasar Johar itu telah dipakai untuk membangun kios. Sementara untuk kulakan buku-buku baru sebagai barang dagangan, Wiyono tak lagi punya simpanan uang.
Ia hanya menjual sisa barang dagangan yang bisa diselamatkan dari amukan si jago merah yang meludeskan Pasar Johar. "Belum lagi kami masih harus membayar retribusi, uang listrik, dan uang sampah. Kami ingin menanyakan komitmen pemerintah kota dan provinsi yang dulu pernah bilang akan membantu permodalan kepada para pedagang yang jadi korban kebakaran," ungkapnya.
Ketua paguyuban pedagang buku Johar Nurul Huda mengatakan, total ada 219 pedagang yang pindah ke Pasar Bulu. Terdiri atas pedagang buku, aksesori, kacamata, dan pedagang jam. Sementara untuk pedagang buku sendiri ada 83 pedagang. Mereka mendapatkan kios sementara dengan ukuran 1,5x2 meter. Ratusan pedagang, menurut Nurul Hulda, nyaris tak bisa menjual barang dagangannya masing-masing. Sebab, sebagian besar pedagang belum punya modal untuk kulakan barang dagangannya.
"Tempat sementara memang telah disiapkan pemkot, tapi nyaris tak banyak dagangan yang bisa kami jual. Kami hanya punya sisa-sisa barang dagangan yang tak ikut terbakar," ungkap pemilik toko buku Amanah ini.
Nurul Hulda masih teringat betul janji dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang dulu pernah bilang akan menghubungkan para pedagang dengan bank-bank untuk membantu permodalan. "Kami berharap pemerintah segera membantu promosi meramaikan tempat berjualan dan permodalan," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/wiyono-jualan-buku-dari-johar-ke-pasar-bulu-sekarang-sepi-pembeli_20150613_160216.jpg)