Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Misteri Mayat Bocah Ahuna Ditindih Barbel 20 Kg

Posisi kepala mendiang Ahuna terbenam di air, tertindih barbel seberat 20 kilogram. Hidungnya mengeluarkan darah segar

Tayang:
Penulis: adi prianggoro | Editor: Catur waskito Edy
Marno menceritakan kisah terbunuhnya puterinya, Ahuna, saat deklrasi “Stop Kekerasan Anak” di Jalan Pahlawan Semarang, Minggu (21/06) pagi. 

Semarang, Tribunjateng.com -- Saat anak-anak membubuhkan tanda tangan di sebuah kain putih di Jalan Pahlawan, Minggu (21/6) pukul 07:00, seorang pria paruh baya memperhatikan mereka. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Pria berkopiah ini kemudian melangkahkan kaki menerobos kerumunan. Dia ikut membubuhkan tanda tangan dalam aksi keprihatinan mengenang Engeline (sebelumnya biasa ditulis Angeline) tersebut.

Lelaki itu adalah Sumarno (56), warga Jalan Gedongsongo Barat RT 8 RW 2, Manyaran, Semarang Barat. Dia kebetulan sedang berjalan-jalan di kawasan Simpanglima dalam ajang Car Free Day (CFD).

Ketika ada kesempatan, Marno maju ke depan pengunjung CFD yang berkumpul. Tangannya menggenggam pengeras suara.

Saat mulutnya terbuka lebar seolah-olah akan mengeluarkan suara lantang, tak ada apa pun yang terdengar. Marno justru meneteskan air mata sebelum menyekanya dengan baju.

Setelah bisa menguasai diri, kisahnya pun mengalir. "Bermula ketika anak ketiga saya lahir pada tahun 1997 di Rumah Sakit Dr Kariadi. Saat itu ibunya (istri Marno) meninggal setelah persalinan. Putri saya bernama Ahuna Tri Lestari, kemudian saya titipkan kepada kakak saya. Akhirnya pada 2 Juli 2009, anak saya ditemukan mati terbunuh secara mengenaskan," kata Marno.

Testimoni itu berlanjut dalam suara yang pelan meski telah memakai pengeras suara. Menurut Marno, Ahuna yang saat itu berusia 12 tahun ditemukan bersimbah darah di kamar mandi rumah kakaknya, Sumiyem, di Jalan Borobodur Utara Raya nomor 57, Kalipancur, Semarang Barat.

Posisi kepala mendiang Ahuna terbenam di air, tertindih barbel seberat 20 kilogram. Hidungnya mengeluarkan darah segar.

"Ahuna sedari bayi memang diangkat sebagai anak oleh kakak saya. Dia meninggal saat sedang bersemangat akan masuk SMP setelah lulus SD," kenang penjual donat keliling itu.

Terdapat luka bekas cekikan di leher Ahuna. Marno tak tahu siapa terduga pembunuh anak bungsunya itu.

"Saya juga tidak tahu apa latar belakang pembunuh menghabisi nyawa Ahuna. Seingat saya, ibu angkatnya yaitu kakak saya baru menjual tanah seharga Rp 125 juta," ungkapnya.

Ketika kasus pembunuhan Engeline mengemuka, Marno makin teringat kasus Ahuna. Enam tahun berlalu, dia tak pernah tahu perkembangan penyelidikan Polrestabes Semarang.

Dulu Marno rajin bertanya kepada polisi mengenai kelanjutan kasus ini. "Tenang saja, Pak. Sampai 10 tahun pun nanti ketemu siapa pembunuhnya," tutur Marno menirukan jawaban aparat.

Dia pernah mendengar kabar pembunuh Ahuna kabur ke Medan. Tak diketahui alasan polisi tak segera mengungkap kasus pembunuhan sadis ini.

"Saya masih berharap hati polisi tergerak sehingga bersedia meneruskan penyelidikan kasus ini. Kadang saya berpikir, pembunuhan yang mayat korbannya dipotong-potong dan disembunyikan saja bisa terungkap kasusnya, tapi pembunuhan anak saya jadi misteri," papar dia.

Terpisah, Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto menyatakan akan mengecek proses pengungkapan kasus ini. Dia bakal menanyakan perkembangannya kepada penyidik yang bertugas. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved