Kamis, 21 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Success story

Hidup Saya Seperti Jet Coaster

Hidup saya naik turun bagai jet coaster. Pernah terpuruk di titik terendah, bangkit, dan anjok kembali, kemudian harus bersemangat lagi.

Tayang:
Penulis: adi prianggoro | Editor: Catur waskito Edy

SEMARANG, TRIBUNJATENG.COM --  Nama 'Lumpia Delight' pastilah sudah tidak asing terdengar di telinga warga Kota Semarang dalam setahun terakhir. Namun, siapa sangka di balik nama besar gerai kuliner khas Kota Atlas itu tersimpan kisah jatuh bangun usaha sang pemilik, Meliani Sugiarto.

Lumpia Delight berhasil didirikan dengan berbagai keberanian dan inovasi baru, setelah kehancuran usaha sebelumnya. Berikut penuturan Meme, sapaan Meliani, kepada Wartawan Tribun Jateng, Adi Prianggoro, baru-baru ini.

Apakah Anda sudah lama menggeluti bisnis Lumpia?

Saya merupakan generasi kelima pembuat lumpia di Kota Semarang. Makanan yang diolah dari bahan baku rebung pilihan itu dipelopori oleh pasangan suami istri Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi, pendiri Lumpia Semarang pada 1870.

Ayah saya, Tan Yok Tjay, merupakan master chef lumpia dan pemilik Lumpia Mataram, sekaligus generasi keempat pembuat lumpia.

Saya belajar membuat bumbu lumpia sejak kelas V SD. Sejak kecil saya bangun subuh untuk membantu orangtua membuat bumbu lumpia, dan pada sore hari sepulang sekolah tak jarang saya mendorong gerobak dagangan.

Apakah hobi dan cita-cita Anda sejak kecil memang menjadi pembuat Lumpia?

Saya sedari kecil sampai sekarang hobi memasak. Saya memang sarjana ekonomi Akuntansi di Universitas Taruma Negara, Jakarta. Namun, keinginan saya sejak kecil ingin bisnis lumpia akhirnya membuat saya meninggalkan ilmu akuntansi itu. Lumpia sudah menjadi bagian urat nadi saya.

Kapan Anda mulai mendirikan bisnis lumpia?

Saya memulainya sejak 2004. Saat itu saya masih mengurusi sendiri mulai dari memasak, penjualan, hingga karyawan. Pada masa itu, saking sibuknya saya bahkan tidak mempunyai dan tidak memakai handphone selama tujuh tahun.

Apakah dalam perjalanan bisnis Anda juga pernah gagal atau terpuruk?

Pasti, hidup saya naik turun bagai jet coaster. Pernah terpuruk di titik terendah, bangkit, dan anjok kembali, kemudian harus bersemangat lagi. Tepat 10 tahun, pada Januari 2014, seluruh bisnis lumpia yang telah saya rintis tiba-tiba lenyap begitu saja seiring dengan hancurnya kehidupan rumah tangga.

Saat itu, saya bahkan beli makan sendiri saja tidak bisa. Saya keluar rumah hanya memakai celana pendek, kaos pinjaman, dan underwear pinjaman.

Lalu, bagaimana Anda bisa bangkit kembali hingga kini bisa mempunyai toko lumpia besar dan menjadi satu ikon makanan khas Semarang?

Saya meminjam tujuh sertifikat rumah milik papa sebagai agunan pinjaman uang untuk modal membuat bisnis lumpia baru. Saya gunakan sebagian uang itu untuk sewa tempat.

Saya memang sengaja membuat tempat usaha baru yang letaknya hanya beberapa meter saja dari toko yang saya tinggalkan. Saya berpikir produk saya harus lebih baik dari toko lama. Saya belajar dari pengalaman yang membuat saya tahu kalau produk-produk terdahulu masih banyak kekurangan.

Kurang dari sebulan setelah kehilangan seluruh bisnis saya, tepatnya 20 Februari 2014, saya bisa membuka toko lumpia baru, namanya Lunpia Delight, di Jalan Gajahmada Semarang. Saat itu, berat badan saya turun drastis 20 kilogram.

Apa begitu buka toko langsung ramai pembeli?

Iya, saya yakin Tuhan ikut campur tangan dalam pekerjaan ini. Hari pertama toko buka, pembeli langsung berjubel dan mengantre. Barangkali mereka (pelanggan-Red) tahu kalau saya pindah toko di sini (Lumpia Delight).

Innovasi seperti apa yang Anda terapkan terhadap produk atau sistem penjualan sehingga bisa tetap menjaga pelanggan?

Memang saya tidak pernah berhenti berinnovasi. Contohnya soal rasa lumpia, saya pasti membuat resep-resep baru. Setiap resep baru membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membuatnya.

Misalnya pada Ramadan ini saya baru meluncurkan lumpia dicampur daging kambing muda. Sebelumnya saya sudah meluncurkan lumpia dicampur daging kepiting dan lumpia ikan kakap.

Tidak lupa saya juga memastikan produk saya halal dan satu-satunya yang memperoleh sertifikat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Begitu juga dengan penjualan, saya pun menggeber promosi dengan hadiah yang diundi. Tahun ini saya menyediakan tiga motor sport, yaitu Yamaha R25, R15, dan Vision yang diundi pada akhir tahun. Ini merupakan bagian dari cara saya mengikat pelanggan.

Bagaimana Anda bisa membuat para karyawan/karyawati selalu bersemangat dan tertib?

Saya tidak pernah menempatkan diri sebagai bos. Saya menyakinkan mereka bahwa saya adalah partner kerja mereka. Setiap pagi saya masih ikut menggulung lumpia bersama para karyawan. Bagi saya, karyawan ibarat akar-akar yang selalu membuat bisnis ini selalu kuat. (ape)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved