Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

100 Pengayuh Becak Bukber di Ramadan Charity 2015

Sabtu (11/7/2015) sore bertempat di Hall Balaikota, sebanyak 100 pengayuh becak dihadirkan untuk mendapatkan siraman rohani, buka bersama...

Penulis: adi prianggoro | Editor: rustam aji
tribunjateng/suharno
ILUSTRASI- Tukang Becak di Solo mengaji sambil nunggu penumpang 

TRIBUNJATENG.COM - Berawal dari keinginan menyalurkan sedekah langsung kepada para mustahiq (penerima zakat), komunitas Ramadan Charity kembali menggelar kegiatan amal bertajuk Ramadan Charity 2015 bersama Pengayuh Becak.

Sabtu (11/7/2015) sore bertempat di Hall Balaikota, sebanyak 100 pengayuh becak dihadirkan untuk mendapatkan siraman rohani, buka bersama sekaligus bantuan sembako dan santunan tunai dari komunitas Ramadan Charity.

Komunitas yang baru berusia 5 tahun ini, menurut Ketua Panitia Siswo Purnomo atau yang akrab disapa Ipung, rutin menggelar kegiatan Ramadan Charity sejak tahun 2010 lalu. Sasaran dan konsep acara berbagi yang diadakan, lanjutnya, berubah-ubah agar penerima sedekah semakin luas. Mulai dari anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa, penyapu jalan dan Alhamdulillah kali ini dengan para pengayuh becak.

Awalnya para donator berasal dari internal PNS Pemkot yang digawangi oleh Bagian Humas Setda Kota Semarang, namun seiring perjalanan banyak yang mempercayakan diri menyalurkan sedekahnya melalui komunitas Ramadhan Charity ini.

“Tahun 2010, kami menggalang dana dengan menjual baju pantas pakai dan kertas bekas. Tetapi Alhamdulillah kemudian banyak yang mempercayakan sedekahnya kepada kami untuk disalurkan bagi mereka yang membutuhkan,” ungkap Ipung dalam sambutannya mewakili panitia.

Lebih lanjut, Ipung menuturkan saat ini donatur lebih variatif mulai dari PNS kota lain seperti Kota Salatiga, Kabupaten Klaten, Kabupaten Boyolali, Kota Tegal hingga Jakarta. Tak hanya itu, donaturpun berasal dari non PNS seperti perbankan, wartawan, pensiunan serta mahasiswa. Sedangkan di internal pegawai Pemkot pun banyak PNS dari beberapa SKPD yang rutin memberikan donasi, seperti DPKAD, DTKP, BPPT, BLH, Dinas Kebakaran dan Setwan.

“Kami tak membatasi donatur. Siapapun yang ingin berbagi dan mempercayakan sedekahnya kepada kami Insyaalloh kami fasilitasi dengan kegiatan-kegiatan amal seperti ini,” lanjut Ipung. Sebagian besar donatur, lanjutnya, mengetahui kegiatan ini dari sms, broadcast message kami ataupun pengumuman di internet melalui media sosial seperti facebook, twitter, serta instagram.

Meski belum memiliki account resmi, komunitas berbagi ini banyak mendapatkan kepercayaan dari donatur. Ada yang percaya karena hubungan pertemanan, kekeluargaan dan bahkan ada yang tak kenal sama sekali, tetapi hanya karena merasa pernah tinggal di Kota Semarang.

“Subhanallah, sebenarnya banyak yang ingin berbagi secara tulus ikhlas tanpa memandang jarak ataupun profesi,” ungkap Ipung. Tahun ini, lanjutnya, Alhamdulillah terkumpul dana Rp 15.710.000. Sebagai pertanggungjawaban penyaluran donasi, panitia juga memberikan laporan pengeluaran disertai dokumentasi kepada para donatur baik secara langsung ataupun dikirim melalui email.

Kedepan, ia dan komunitasnya berharap agar kegiatan berbagi ini bias terus istiqomah, tak hanya di bulan Ramadhan saja melainkan juga di bulan-bulan lain dengan sasaran penerimaan yang semakin luas menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sementara, ustad Hidayat dalam tausiahnya menyampaikan pentingnya mengingat mati. Puasa termasuk berbagai amalan penyertanya seperti sedekah, lanjutnya, juga sebagai pengingat akan kematian. Dimana nanti dialam kubur manusia juga tak lagi butuh makan, minum serta harta.

Lebih lanjut, ustad Hidayat menyampaikan bahwa rukun Islam setelah syahadat semuanya pun memberi alarm pengingat akan kematian. Posisi sholat dengan tangan bersedekap adalah posisi saat dikafani. Zakat mengingatkan kita bahwa saat mati harta tak lagi digenggaman, tak ada harta yang akan dibawa. Puasa menandakan tak butuh makan minum disaat mati. Dan terakhir haji, saat berdiam diri di padang arafah, menggambarkan kondisi manusia yang menunggu masa pengadilan hakiki di padang mashar.

Oleh karenanya, Ustad Hidayat mengingatkan dirinya pribadi dan seluruh jamaah untuk dapat memaksimalkan amalan bulan Ramadhan dan istiqomah di bulan-bulan selanjutnya. “Karena mati tak kenal waktu, usia, ataupun profesi. Semua adalah rahasia ilahi,” tutupnya mengakhiri tausiah singkat jelang berbuka.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved