Pembunuhan
Pembunuh Wartawati Sempat Balas SMS Teman Korban
Saya tanyakan lewat whatsapp pada 30 Juni 2015 untuk ngajak buka puasa bersama, tapi tidak dibalas hari itu, dia balas pada 1 Juli 2015 pukul 05.05
DEPOK, TRIBUNJATENG.COM -- Kapolres Kota Depok, Kombes Dwiyono menyatakan, kasus tewasnya wartawati lepas Noerbaety Rofiq (44) tidak terkait profesi korban. Polisi menyatakan Noerbaety merupakan korban pencurian yang dianiaya hingga tewas karena memergoki para pelaku.
Dwiyono menyatakan pencurian tersebut diprakarsai oleh DN (25), buruh bangunan yang bekerja di dekat rumah Noerbaety di Perumahan Gaperi, Depok, Jawa Barat. Dia kemudian mengajak dua rekannya, Syarifudin (20) serta Hafit Ubaidilah (22).
Dwiyono mengaku sudah memeriksa dua pelaku yang tertangkap, Syarifudin serta Hafit, dan tidak menemukan kaitan antara kematian Noerbaety dan profesinya. "Para tersangka mengaku ingin memiliki barang berupa ponsel serta memiliki uang untuk Lebaran," kata Dwiyono di kantornya di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (20/7).
Saat ditanya mengapa pelaku membawa alat perekam dan buku kartu nama yang tidak memiliki nilai jual, Dwiyono menyatakan akan kembali mendalami pengakuan pelaku.
Hafit mengaku, menusuk korban karena panik lantaran korban memergoki pencurian itu. Bahkan, Noerbaety sempat mengggertak pelaku sehingga terjadi adu mulut antara keduanya. "Saya tusuk karena panik, takut," katanya di Mapolresta Depok.
Setelah Hafit menyerang korban, Syarifudin menjatuhkan dan menindih Noerbaety. Sedangkan DN menyayat leher Noerbaety. Menurut Hafit, korban tidak sempat berteriak minta tolong ketika dia menusuk perut dan pinggang korban. Hafit mengaku tidak tahu profesi korban. "Saya tidak tahu kalau dia wartawan," ujarnya.
Hafit mengakui membawa pisau untuk berjaga-jaga ketika menjalankan aksi yang digagas DN. Pisau tersebut dibelinya di Pasar Citayam, Bogor, seharga Rp 5.000. "Kompleksnya kan ramai," ujar pemuda yang memiliki banyak tato di tangannya itu.
Ketiga pencuri menggasak barang-barang berharga seperti laptop, kamera SLR, empat ponsel, dan alat perekam. Menurut Hafit, seluruh barang berharga itu dijual seharga Rp 2 juta. Hafit mengaku mendapat Rp 500 ribu dan uang tersebut ia gunakan untuk membeli minuman keras dan menenggaknya hingga mabuk.
Menurut Dwiyono, DN dan kedua rekannya mematangkan rencana pencurian di rumah Noerbaety, Jumat (3/7) sore. Pada Sabtu dini hari, mereka mencongkel pintu belakang untuk masuk ke rumah Noerbaety.
Ternyata, Noerbaety sedang sahur. Mereka lalu menunggu pemilik rumah tidur kembali. Setelah merasa aman, para pelaku menjalankan aksinya. Namun ternyata Noerbaety memergoki aksi sehingga dianiaya dan tewas.
Jenazah Noerbaety ditemukan oleh keluarganya pada Sabtu (18/7) siang. Korban ditemukan dalam keadaan telungkup dan tangan terikat. Barang-barang korban yang hilang di antaranya adalah laptop, kamera SLR, empat ponsel, alat perekam, dan buku kartu nama.
Ketika memeriksa saksi, polisi mendapat petunjuk berharga. Salah seorang saksi melihat DN beraktivitas di lokasi kejadian sekitar dua pekan sebelum jenazah Noerbaety ditemukan. "Lalu kami selidiki secara intens dan dua tersangka akhirnya dapat ditangkap di wilayah Bogor," ujar Dwiyono. Hingga kemarin, DN belum tertangkap.
Selain menangkap Hafit dan Syarifudin, polisi juga menangkap MP (20). Dia adalah orang yang mengetahui rencana pencurian tersebut. "Tapi karena satu alasan dia tidak ikut dalam aksi pencurian itu. Namun, setelah peristiwa itu, dia diberi handphone oleh salah seorang tersangka," ujar Dwiyono.
SMS Mencurigakan
VERRA Y, teman kuliah wartawati yang tewas di Bogor Noerbaety Rofiq, mengaku sempat berkomunikasi dengan Noer pada 30 Juni. Saat itu, Vera berencana mengajak Noer buka puasa bersama di Kalibata City. Namun, tanggapan yang dilontarkan mencurigakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hakim-sms_20150618_050431.jpg)