Supriyadi Sebut Rantai Setoran Parkir Terlalu Panjang
"Rantai setoran dari juru parkir sampai ke kas daerah Pemkot Semarang terlalu panjang dan mestinya dipangkas," kata Supriyadi, Selasa (11/8/2015).
Penulis: adi prianggoro | Editor: rustam aji
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi menyatakan, pengelolaan perparkiran di Kota ATLAS telah dikuasai kelompok tertentu. Untuk mengatasi kebocoran, Supriyadi mengusulkan, Dishubkominfo Kota Semarang mendirikan outlet-outlet yang berfungsi menampung setoran langsung para juru parkir.
"Rantai setoran dari juru parkir sampai ke kas daerah Pemkot Semarang terlalu panjang dan mestinya dipangkas," kata Supriyadi, Selasa (11/8/2015).
Sebelumnya diberitakan, anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Ari Purbono, mengaku gemas atas tidak tercapainya target PAD dari pengelolaan parkir dari tahun ke tahun. Padahal, kata Ari, potensi parkir Kota Semarang terbilang amat besar.
Sementara itu, pakar transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno memperkirakan, potensi parkir kota Semarang bisa mencapai Rp 150 miliar jika dikelola dengan maksimal. Perhitugannya itu berdasarkan pada asumsi jumlah kendaraan di kota Semarang capai 1,03 juta unit per tahun 2010. Saat ini perkiraannya lebih banyak lagi.
"Itu bisa dicapai jika pengelolaannya maksimal," katanya dalam pesan yang dikirim pada Tribun Jateng, Selasa kemarin.
Ia mengatakan, parkir merupakan masalah yang sudah 15 tahun tak diurus secara serius. Saran dan usul yang diminta tidak dikerjakan. "Bahkan kajian dan studi sudah banyak dilakukan oleh Dishub maupun DPRD. Tapi sampai sekarang kajian tidak dilaksanakan, hanya buku yang ditumpuk," katanya.
Jika kondisi parkir terus menerus seperti sekarang, menurut dia, perlu gerakan warga sipil tidak perlu bayar parkir di tepi jalan. "Ketimbang bayar tapi banyak tak masuk kas pemda," ucapnya. (ape/bbb)