Pilkada Serentak Jawa Tengah
Budi Setyono: Paslon Wali Kota Jangan Asal Janji
Budi Setyono berharap para bakal calon wali kota dan wakil kota tidak sekadar memberikan janji atau bahkan menyodorkan "mimpi" bagi masyarakat
Penulis: adi prianggoro | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, A Prianggoro
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pakar politik sekaligus akademisi dari Kampus Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro Semarang, Budi Setyono berharap para bakal calon wali kota dan wakil kota tidak sekadar memberikan janji atau bahkan menyodorkan "mimpi" bagi masyarakat.
"Mereka harus bisa merumuskan permasalahan dalam satu kebijakan yang bukan asal-asalan. Permasalahan kota Semarang harus di ketahui oleh para calon jauh jauh hari. Mereka jangan sekadar menjanjikan kebijakan yang populis untuk menarik kepercayaan dan dukungan masyarakat ketika pemilu," kata Budi, Kamis (13/08/2015).
Budi menyampaikan itu saat mengisi Dialog Publik Gema Pembaharuan bertajuk "Menjaga Kerukunan Umat Beragama Demi Terwujudnya Pilkada Kondusif di Jateng" di Ruangan Papandayan Hotel Horison, Kamis (13/8).
Menurut Budi, calon pemimpin merupakan kader yang dibina selama lima tahun oleh partai politik dan bukan asal 'comot' dari orang-orang yang memiliki kemampuan finansial namun tidak tahu kondisi masyarakatnya.
Dengan waktu lima bulan ke depan sebelum berlangsungnya pemilihan wali kota, Budi beranggapan bila para calon seolah-olah merupakan "settingan" tim sukses untuk menarik dukungan dan bukan merupakan kondisi asli calon pemimpin tersebut.
"Keseharian calon wali kota dan wakilnya saat ini bukan merupakan situasi asli mereka. Oleh tim sukses, mereka mungkin sudah dikenakan bedak, lipstik, serta diatur pakaiannya, agar mempengaruhi publik dengan tujuan dapat mengambil simpati masyarakat," tambah Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Undip ini.
Budi menilai partai politik selama lima tahun terakhir ini "tidur" dalam menyiapkan kader calon pemimpin yang memiliki integritas dan kapabilitas untuk diusung dalam Pemilukada.
Alhasil, partai-partai tidak dapat menyiapkan kader yang mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin di daerah sehingga saat pemilukada mereka hanya mencari-cari orang sekenanya yang bisa membayar atau melobi dengan partainya tanpa dipersiapkan jauh jauh hari.
"Kebanyakan parpol mencari pemimpin secara instan, bahkan visi misi mereka belum teruji di masyarakat," katanya. (*)