Pompa Rusak, Ratusan Warga Sendang Asri Kekurangan Air
Sumur artetis yang menjadi satu-satunya sumber air bagi warga kampung setempat tak dapat lagi mengalirkan air karena pompanya rusak.
Penulis: adi prianggoro | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, A Prianggoro
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lebih dari sepekan belakangan, ratusan warga di Perumahan Sendang Asri, RW 8, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, kesulitan air bersih.
Sumur artetis yang menjadi satu-satunya sumber air bagi warga kampung setempat tak dapat lagi mengalirkan air karena pompanya rusak.
Seorang warga setempat, Ny Roma (47) menceritakan, dirinya sudah sepekan belakangan ini hanya "sibin" atau cuci muka saja.
"Pilihannya akhirnya bawa handuk dan peralatan mandi ke kantor. Kalau pagi sebelum masuk kerja mandi dulu di kantor, demikian juga sebelum pulang kerja mandi lagi di sana. Itu pun tidak bisa setiap hari karena melihat kondisi tempat kerja," kata Ny Roma saat ditemui Tribun Jateng di rumahnya, Sabtu (16/7) malam.
Wanita yang bekerja di sebuah pabrik di Jalan Ronggowarsito itu menceritakan, sejak tahun 2000 masyarakat setempat mengelola secara swadaya sumur artetis.
Menurut Ny Roma, pihak pengembang perumahan menyerahkan pengelolaan sumur itu kepada warga. Sumur artetis itu mengalir ke sekitar 197 KK, RT 3 - RT 10 wilayah RW 8. Hanya ada sekitar 19 orang warga yang berlangganan PDAM.
"Nah karena pompa itu menyala terus 24 jam akhirnya pompa itu terbakar dan rusak juga. Warga tak mampu beli pompa baru karena harganya mencapai puluhan juta," terangnya.
Ny Kamto menambahkan, selama sepekan terakhir ini dia dan warga membeli air dari penjual keliling untuk kebutuhan memasak. Harga per jerigen isi 20 liter adalah Rp 2.500.
"Kalau 20 liter itu tidak cukup lho untuk sekali mandi. Kami juga kesulitan mendapatkan air untuk mencuci pakaian, kecuali mereka yang punya uang lebih ya ke (jasa) laundry," ungkapnya.
Senada juga diungkapkan Rohadi (42), warga RT 3 RW 8 kampung setempat. "Sudah sepekan lebih saya mandi di kantor. Kami berharap pemkot segera membantu mencarikan solusi buat warga di sini," ungkap pria pekerja pabrik ini.
Sementara itu, Ketua pengelola air sumur artetis di kampung tersebut, FX Suparji menyatakan, pompa air rusak karena memang tingginya jam operasional. Sumur artetis itu menyalurkan air bagi 197 kepala keluarga (KK).
Menurut Suparji, warga biasanya iuran Rp 20 ribu - Rp 30 ribu per bulan untuk biaya listrik pompa dan tenaga operasional pompa.
"Memang biaya listriknya tinggi karena pompa itu dikenai tarif untuk golongan industri oleh PLN. Kami suudah mengajukan beberapakali untuk perubahan golongan bukan industri, namun ditolak oleh PLN," kata Suparji. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sepekan-ini-pmi-kabupaten-tegal-distribusikan-air-bersih-di-4-kecamatan_20150804_182057.jpg)