Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Headline

Polytron Kudus Tunda Penambahan Karyawan

Kenaikan harga produk tak bisa dihindari, lantaran sebagian komponen untuk produksi masih harus didatangkan dari luar negeri atau import.

tribunjateng/dok
Begini mekanisme penukaran uang rusak terbakar 

KUDUS, TRIBUNJATENG.COM - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga ke angka 14.067 pada penutupan perdagangan kemarin, membuat pabrikan elektronik asal Kudus, PT. Hartono Istana Teknologi dengan merek dagang Polytron, mengencangkan ikat pinggang.

Kenaikan harga produk tak bisa dihindari, lantaran sebagian komponen untuk produksi masih harus didatangkan dari luar negeri atau import.

"Kami membeli bahan baku dari luar negeri menggunakan dollar, otomatis ongkos produksi naik," kata Public Relation and Marketing Event Manager Polytron, Santo Kadarusman, Selasa (25/8).

Disampaikan, Polytron memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dollar adalah Rp 10 ribu per satu dollar. Namun, saat ini nilai tukar satu dollar AS mencapai Rp14.000.

"Setiap ada kenaikan nilai tukar pe dollar Rp 500, kami proyeksikan ada kenaikan harga produk sebesar tiga persen," ucapnya.

Menurut dia, awalnya pihaknya tak langsung memutuskan menaikkan harga jual produk, saat dollar merangkak naik. Hal ini, untuk menjaga konsumen agar tak beralih ke produk kompetitor. "Namun, saat dollar tembus Rp14.000 mau tak mau kami menaikkan harga jual," kata dia.

Disampaikan, jika mengikuti asumsi di atas, maka harusnya harga jual produk Polytron naik 18 persen. Namun, pihaknya masih mempertimbangkan seberapa besar kenaikan harga jual produk, yang akan diambil.

"Untuk bisa bertahan dalam kondisi ini, selain menaikkan harga jual, kami juga harus mengencangkan ikat pinggang, dengan berbagai langkah efisiensi," ujar dia.

Namun, ditandaskan, langkah efisiensi yang diambil tak sampai pada tahap merumahkan karyawan. Hanya, diakui, lantaran kondisi seperti saat ini, pihaknya tak akan menambah karyawan baru.

Padahal, kata dia, jika dalam kondisi normal kebutuhan tenaga kerja di sektor produksi ponsel, tak bisa diabaikan.

"Kalau sampai merumahkan tidak, tapi memang sementara ini kami tak akan menambah tenaga kerja. Ini juga bagian dari langkah efisiensi, memaksimalkan tenaga yang ada," terangnya.

Selain itu, lanjut dia, langkah efisiensi lainnya adalah menggenjot produk untuk ekspor. Menurutnya, produk Polytron 90 persen untuk pasar lokal, dan 10 persen lainnya untuk dieskpor.

"Lokasi pabrik yang ada di Jateng juga bisa dibilang menguntungkan, dibanding lokasi pabrikan kompetitor yang ada di Jakarta atau Bekasi, misalnya. Ini berkaitan dengan standar upah minimum kabupaten (UMK)," jelas dia.

Harga Sharp naik September

Branch Manager PT Sharp Electronics Indonesia wilayah Semarang, Anton Fatoni memastikan harga produk Sharp akan naik 3 persen seiring melemahnya rupiah pada dollar yang tembus Rp 14 ribu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved