Kebakaran
Suara Tangis Perempuan Terdengar di Sepanjang Gang Banowati
Uut tidak menempati rumah itu, namun bangunan yang terbakar tersebut dihuni oleh kedua orang tuanya, Sujanadi dan Sri Hartati.
Penulis: adi prianggoro | Editor: Catur waskito Edy
Laporan Wartawan Tribun Jateng, A Prianggoro
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Memasuki Gang Banowati Tengah IV Kelurahan Bulu Lor Kecamatan Semarang Utara, Senin (01/09/2015) malam, terdengar isak tangis dari sejumlah sudut rumah.
Suasananya di sana gelap, namun puluhan orang masih berdiri berkelompok di sepanjang gang. Tangis itu pecah dari sejumlah orang, terutama dari ibu-ibu dan remaja wanita.
“Orak ono sing iso diselametke (tidak ada bisa yang diselamatkan- Red),” ujar seorang perempuan lirih seraya menahan isak tangis.
Sementara itu, sejumlah orang terlihat membawa senter berada di antara puin-puing rumah yang baru saja terbakar. Meski ada garis polisi membatasi sejumlah rumah, beberapa warga tetap menerobos garis itu.
Mereka terlihat mencari barang di antara sisa perabotan yang terbakar. Satu di antara warga itu adalah Uut (43), yang datang membawa senter dan terlihat mengumpulkan kertas-kertas.
Uut tidak menempati rumah itu, namun bangunan yang terbakar tersebut dihuni oleh kedua orang tuanya, Sujanadi dan Sri Hartati.
“Ijazah saudara-saudara saya masih tersimpan di rumah ini, termasuk sertifikat rumah ini dan surat penting lainnya. Ini cuma dapat surat bukti pembayaran PBB (pajak bumi dan bangunan), lumayan bisa untuk bukti kepemilikan rumah pengganti sertifikat,” kata Uut.
Bila Uut masih menemukan sebuah surat bukti pembayaran PBB, lain cerita dialami oleh Ny Dani Setyorini (60). Janda itu duduk dan hanya bisa menangis di dekat tempat tinggalnya.
“Saat kebakaran terjadi saya sedang pergi, sesampainya di rumah sudah tidak ada lagi yang tersisa. Saya hanya pasrah, saya berharap ada orang yang bersedia membantu membangunkan rumah,” kata Dani.
Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, yang meninjau lokasi kebakaran ditemui oleh Ketua RT kampung setempat, Suharto, dan Ketua RW kampung setempat, Kiswanto. Sejumlah korban kebakaran juga menangis di hadapan Supriyadi seraya meminta Pemkot Semarang memberikan bantuan atas musibah tersebut.
“Jumlah bangunan yang terbakar ada 3 unit, namun 3 unit rumah itu dihuni oleh 5 KK,” kata Suharto.
Mendengar laporan tersebut, Supriyadi mewakili DPRD Kota Semarang kemudian memberikan bantuan berupa uang kepada para korban. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kebakaran-bulu-lor_20150902_140534.jpg)