Liputan Khusus
Mengenal Seluk Beluk Pelaku Pencurian PIN ATM
Fakta mengejutkan, ketika dirinya menemukan admin sebuah bank ternama menyimpan data ke dalam email pribadi.
Duplikasi kartu
Iryandi mengatakan untuk duplikasi kartu menggunakan dua alat yakni reader dan writer. Reader untuk membaca data, sedangkan writer untuk menulisnya.
“Kalau kita check in di hotel berbintang, kita kan mendapatkan kartu (RFID) yang di-write akses nomer kamar tertentu. Jika kita perhatikan prosesnya sangat mudah bisa dilakukan oleh pegawai resepsionis. Nah begitu juga dengan duplikasi ATM, bisa sangat mudah dan cepat. Bedanya hanya di media penyimpanan data (storage) yang dikenal ada tiga, yaitu magnetik, rifd, dan chip,” ujarnya.
Iryandi mengatakan pencegahan kasus pembobolan sistem keamanan perbankan panjang dan berliku. Harus dilakukan top-down, bukan hanya bottom-up.
Artinya dari mulai pemerintah sebagai regulator juga harus bisa melakukan penciptaan perangkat hukum, enforcement, analisa evaluasi, dan tentunya juga improvement.
“Kasus ini kasus yang kusut dan sudah mengakar, karena berhubungan dengan undang-undang, investasi perangkat dari pihak bank, dan juga kesadaran masyarakat itu sendiri," katanya.
Lalu yang tidak kalah penting adalah sosialisasi. Mana yang jadi tanggung jawab perbankan atau nasabah. "Misalnya masalah kebocoran PIN, bank mengeluarkan statemen bahwa PIN adalah rahasia dan jadi tanggungjawab nasabah, artinya ketika ada kasus penarikan ganda, bank akan lepas tangan dan bilang, itu salah nasabah sendiri tidak menjaga PIN. Tapi dari sisi nasabah, lah saya ngga tau kalo PIN itu sebaiknya berbeda dari tanggal lahir saya. Inilah perlunya sosialisasi,” ujarnya.(tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/atm-atm-ilustrasi_20150409_195047.jpg)