Jumat, 22 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Nilai Tukar Rupiah Anjlok

Wika Prediksi Bakal Ada 1.185 Tenaga Kerja Terancam PHK

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS hingga saat ini masih melemah. Secara langsung maupun tidak, itu berdampak pada kesehatan perusahaan

Tayang:
Penulis: deni setiawan | Editor: rustam aji
tribunjateng/dok
Wika Bintang, Kadinsosnakertrans Provinsi Jateng 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat hingga saat ini masih melemah. Secara langsung maupun tidak, itu berdampak pada kesehatan perusahaan. Mereka mau tidak mau harus merumahkan sebagian tenaga kerjanya agar perusahaan bisa bertahap dan berproduksi.

"Yang cukup menohok ketika belum stabilnya perekonomian di Indonesia, terutama di Jawa Tengah di antaranya perusahaan di sektor garmen, tekstil, plastik, hingga yang memiliki banyak tenaga outsourching," kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jateng Wika Bintang kepada Tribun Jateng, Minggu (13/9/2015).

Dia memprediksi, ketika situasi semakin sulit itu, ada sekitar 1.185 tenaga kerja lagi yang terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Tengah. Itu sudah dilihat dari data dan laporan sejumlah perusahaan, yang berkonsultasi hingga menyampaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

"Yang sudah nyata terkena PHK saat ini sekitar 1.305 tenaga kerja. Itu di periode Februari hingga Agustus 2015. Itu baru yang perusahaan-perusahaan menengah ke atas. Jika kondisi ekonomi masih seperti ini, kami prediksi bakal ada sekitar 1.185 tenaga kerja yang terancam PHK," ungkapnya.

Wika tak bisa menampik alasan-alasan pemilik atau pengelola perusahaan tertentu yang terpaksa memilih jalur PHK. Alasan utama dan mayoritas terjadi adalah efisiensi operasional produksi. Harga bahan baku semakin mahal, ekonomi belum menguntungkan, harus tetap produksi atau bertahan, siasatnya adalah efisiensi tenaga kerja.

"Jika tidak dilakukan seperti itu, perusahaan terancam gulung tikar. Sama seperti sejumlah perusahaan karena tidak kuat lagi bertahan, terpaksa menutup usahanya. Mayoritas yang terjadi hingga gulung tikar adalah perusahaan di kelas menengah ke bawah," ujarnya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved