Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Perlakukan Penyiar Layaknya Teman

Itulah, antara lain perbedaan penyiar zaman dulu dan sekarang. Zaman sekarang, jika penyiar baru langsung dikerasi, pasti mental dan memilih pergi

Penulis: muslimah | Editor: Catur waskito Edy
(Tribun jateng/ Hermawan Handaka)
Penanggung jawab Radio Suara Semarang, trainer Gajah Mada Group, Presenter Protv, Pengajar publik speaking 

TRIBUNJATENG.COM -- Shock, kaget, sekaligus sakit hati. Itulah yang dirasakan Arin Karin saat tahun 1994, ia bergabung di satu stasiun radio. Arin merupakan pendatang baru yang masih mencoba menyerap semua pelajaran di sekeliling.

"Waktu itu, suara saya dibilang mirip tai kucing. Kali pertama menjadi penyiar, suara saya memang tidak sebulat seperti sekarang," cerita Arin kepada Tribun Jateng, Kamis (5/2).

Meski sakit hati, celaan tersebut melecut semangat Arin memperbaiki kualitas suara. Ia ingat, pernah menempuh cara merokok karena ada teman yang mengatakan, kebiasaan menghisap tembakau bakar ini bisa membuat suara terdengar lebih berat akibat penebalasan pita suara. Sekarang, Arin memutuskan berhenti merokok.

Sampai akhirnya, ia menemukan cara yang lebih efektif, yakni pernafasan diafragma. Metode ini membuat Arin bisa bicara panjang lebar tanpa ngos-ngosan. Seiring berjalannya waktu, suara Arin juga lebih bulat dan berat. "Itulah, antara lain perbedaan penyiar zaman dulu dan sekarang. Zaman sekarang, jika penyiar baru langsung dikerasi, pasti mental dan memilih pergi," imbuh Arin.

Ibu satu putri ini sekarang menjabat sebagai Program Director Imelda Semarang Female Station. Ia juga sibuk menjalankan tugas berbagai jabatan di jaringan Gajah Mada Group, di antaranya, sebagai penanggung jawab Radio Suara Semarang dan trainer penyiar baru Gajah Mada Group. Arin pun menjadi presenter Protv serta mengajar publik speaking.

Sebagai program director di Imelda, Arin membawahi 17 penyiar. Saat bergaul dengan anak buah, ia memutuskan lebih menjadi teman dibandingkan atasan. Formula itu ia terapkan berdasarkan pengalaman bahwa penyiar sekarang memiliki mental berbeda dari zaman dulu.

Tidak hanya urusan mental, kualitas suara juga berbeda. Di masa lalu, penyiar yang baik adalah yang memiliki suara berat, vokal bulat dan enak didengar. Sekarang, itu saja tidak cukup. Diperlukan seseorang yang nyaman menjalankan pekerjaan dan memiliki visi yang sama sehingga bisa berinteraksi dengan pendengar. Sementara, suara bisa diolah.

Dalam merekrut penyiar baru, biasanya Arin akan mempertimbangkan tiga hal, yakni knowledge (pengetahuan), attitude (perilaku), dan language (bahasa). Perilaku yang dinilai mencakup kedisiplinan waktu karena jam siar harus dipatuhi secara ketat.

Sedangkan pengetahuan terkait berkembangnya arah pembahasan si penyiar saat bertugas.

Dibandingkan sekitar sepuluh tahun lalu, Arin merasakan perubahan akibat perkembangan zaman. Selain kebutuhan penyiar, program acara juga mengalami pergeseran. Apalagi, saat ini, radio menghadapi persaingan ketat dengan internet dan televisi.

Di masa lalu, tidak diperlukan acara yang istimewa untuk menarik pendengar. Cukup memutar lagu terkini dan yang menelepon atau SMS jumlahnya mencapai lebih dari seratus orang. Sekarang, di setiap acara, pendengar interaktif rata-rata hanya puluhan orang. Itu pun, ditambahkan Arin, setelah ia mengemas acara sedemikian rupa.

Sebagai misal, membuat acara yang inspiring sehingga pendengar merasa dilibatkan. Hanya lewat cara ini, Arin mengatakan, radio akan mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Mau tidak mau, radio juga harus memanfaatkan jejaring sosial berupa Facebook atau Twitter untuk melibatkan pendengar. Sebuah topik yang akan dibahas di satu program acara tertentu akan dilempar dulu ke jejaring sosial untuk melihat respon mereka.

Melalui cara ini, Arin yang di menjadi program director di Imelda sejak 2006 mampu membawa radio tersebut tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Pada 2013 lalu, Imelda bahkan mendapat KPID Award untuk kategori radio siaran swasta terbaik se-Jateng.

"Saya menganggap penghargaan itu sebagai tantangan. Bagaimana selanjutnya agar menjadi lebih baik lagi, itu yang selalu kami pikirkan. Award bukan sesuatu yang menjadi tujuan akhir," tandas Arin.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Tags
smartwomen
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved