Inilah Pengakuan Pemilik Lahan Ditemukan Candi Peninggalan Mataram
Kebun itu milik adik saya. Selama ini, warga tidak berani mendekat. Dikeramatkan atau tidak, buktinya tidak pernah ada sesajen di tempat ini
Penulis: muh radlis | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Penemuan candi yang diduga peninggalan Kerajaan Mataram ini ternyata sudah lama diketahui masyarakat sekitar.
"Sebenarnya kami sudah tahu sejak dulu. Tapi, warga membiarkannya," kata Sumeno (65), warga Kampung Duduhan RT 05/RW 05, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Senin (28/9).
Di dusun tersebut, warga menemukan situs berupa komplek candi Hindu.
SEJAK Jumat (25/9) hingga Senin kemarin, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) melakukan penggalian di lokasi penemuan, yakni kebun milik Sutopo, warga setempat. Sisa-sisa peninggalan diduga zaman mataram Kuno itu telah tertimbun tanah serta ditumbuhi pepohonan.
Warga sekitar mengaku telah mengetahui keberadaanya sejak lama. Meski begitu, warga tidak lantas heboh. Bahkan, warga juga tak mensakralkan bangunan terbuat dari bebatuan mirip bata merah tersebut.
"Kebun itu milik adik saya. Selama ini, warga tidak berani mendekat. Dikeramatkan atau tidak, buktinya tidak pernah ada sesajen di tempat ini," kata seorang warga, Sumeno (65), saat berbincang dengan Tribun Jateng di lokasi penggalian.
Koordinator PPAN, Agus Setijanto, menuturkan, situs candi yang ditemukan di Kampung Duduhan berukuran 9,3 x 9,3 meter. Untuk mengetahui bentuk aslinya, ia bersama tim akan melakukan penggalian hingga Selasa (29/9).
"Dulu, pada 1976, situs ini pernah disurvei oleh Pusat Arkeologi. Namun, penelitian baru bisa dilakukan sekarang. Kami bertugas menggali bagian dasar dan tubuh candi," paparnya.
Agus memperkirakan, candi tersebut berbentuk bujur sangkar. Ukurannya sedang. Walau demikian, ia belum berani memastikan, apakah benar situs itu benar-benar merupakan candi Hindu era Mataram Kuno.
"Kami akan membawanya ke laboratorium. Kami akan kaji dan teliti sampel serta motifnya menggunakan karbon dan arang," tuturnya.
Agus mengatakan, penggalian oleh tim PPAN sebenarnya bertujuan mengetahui sejarah awal perkembangan agama Hindu dan Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah (Jateng) sebelum berkembang menjadi kerajaan besar, seperti di DI Yogyakarta. "Asumsinya, pengaruh India datang dari Pantai Utara Jawa," ucapnya.
Camat Mijen, Ali Mochtar, mengaku bersyukur atas penemuan bekas bangunan yang diduga candi di Kampung Duduhan. Ia berharap, keberadaan peninggalan kerajaan tersebut bakal semakin mengangkat potensi kawasan.
"Secara lebih lanjut, kami akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang. Kami minta petunjuk, langkah apa yang nanti diambil terkait penemuan situs itu," tandasnya. ()
Seperti diberitakan sebelumnya, jejak kerajaan Mataram Kuno baru saja ditemukan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Jejak, lebih tepatnya situs, itu berupa tumpukan batu yang tertata rapi dalam timbunan material tanah sedalam satu meter. Untuk keperluan eskavasi, lahan tersebut telah diberi batas dan tanda sesuai ketentuan penelitian arkeologi.
Seperti disebut di awal, situs kuno yang digali ini diperkirakan adalah situs Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Situs ini pertama kali ditemukan oleh Pusat Arkeologi pada tahun 1976 silam, namun belum sempat dilakukan eskavasi. Baru pada tahun ini, eskavasi pada situs tersebut dilakukan untuk dilakukan penelitian secara lebih mendalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/candi-mijen_20150929_101554.jpg)