Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Destinasi Purbalingga

Membeli Sekaligus Belajar Membuat Gerabah di Desa Pelutan, Purbalingga

Ingin membeli sekaligus belajar cara membuat gerabah? Desa Pelutan di Kabupaten Pemalang bisa menjadi tujuan.

Penulis: raka f pujangga | Editor: rika irawati
tribun jateng/hermawan handaka
Seorang perajin menjemur gerabah sebelum akhirnya dibakar. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga

TRIBUNJATENG.COM - Mau belajar membuat gerabah dari tanah liat? Sentra industri rumah tangga gerabah di Desa Pelutan, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, menawarkan kursus membuat gerabah.

Ketua Paguyuban Siti Mulya, Suharno menyampaikan, pelatihan pembuatan gerabah sudah sering diikuti pelajar di Pemalang. "Peserta dapat mempelajari teknik membuat gerabah, termasuk bahan-bahan yang harus disiapkan," katanya.

Seorang perajin membentuk tanah liat menjadi pot di atas alat putar.
Seorang perajin gerabah di Pelutan, Pemalang, membentuk tanah liat menjadi pot di atas alat putar. (tribun jateng/raka f pujangga)

Cara pembuatan gerabah itu menggunakan metode tradisional, yakni alat putar. Kemudian, tanah liat secara bertahap dibentuk menjadi gerabah. Bagi yang belum pernah, cara ini tentu sangat mengasyikkan.

Setelah bentuk yang diinginkan jadi, kemudian gerabah mentah melalui proses pembakaran. Alat pembakarannya juga sederhana, menggunakan kayu bakar dan dinding batu bata. "Tingkat pelajar, tarifnya Rp 70 ribu per jam dan sudah banyak yang ikut. Tapi, untuk umum, memang belum banyak," katanya.

Menurut Suharno, ada sekitar 134 perajin gerabah yang tercatat secara resmi di paguyuban, yang menghasilkan ribuan gerabah dalam satu tahun. Para perajin gerabah mulai mengembangkan bisnisnya pada 1995.

"Sebelum 1995, produksinya masih monoton sehingga tidak banyak dilirik. Tapi, sekarang sudah banyak dicari pasar," kata dia, di rumahnya di RT 06 RW 08, Desa Pelutan, Kabupaten Pemalang.

Bentuk gerabah yang lebih kreatif, kata dia, membuat nilai jualnya semakin tinggi. Tidak sedikit dari produknya yang dipasarkan hingga Sulawesi dan Medan.

"Sejak tahun itu, produksinya terus meningkat dan banyak pemesanan. Terutama pada 2000 hingga 2005, penjualan gerabah sangat bagus bersamaan tren tanamann hias," katanya.

Saat ini, model pot gerabah yang masih banyak diminati yang bertekstur kulit luar menyerupai pohon kelapa. Selain pot, dia juga menjual gerabah untuk menambah estetika taman. Gentong dari tanah liat itu, dmodifikasi menjadi air mancur. "Sekarang, yang lagi laris paket untuk taman. Harganya variatif, mulai dari Rp 90 ribu, sesuai kerumitan pesanan," jelas dia.

Seorang perajin menjemur <a href='https://jateng.tribunnews.com/tag/gerabah' title='gerabah'>gerabah</a> yang selesai dibentuk.
Seorang perajin gerabah di Pelutan, Pemalang, menjemur aneka pot yang selesai dibentuk. (tribun jateng/raka f pujangga)

Saat ini, dia membawahi empat orang perajin gerabah. Di sana, industrinya bersifat industri rumah tangga. "Satu bulan, saya bisa menghasilkan sebanyak 200 biji. Bentuknya beragam, dari berbagai jenis gerabah, tapi yang kami produksi paling banyak pot karena sudah seperti kebutuhan pokok," kata dia.

Harga jual pot gerabah dilepas mulai Rp 5 ribu sampai Rp 60 ribu per buah. Pemasarannya, mayoritas masih berada di dalam negeri. "Setiap bulan, kami mengeluarkan desain baru. Sumber referensinya banyak, kadang dari Kasongan (Yogyakarta)," jelas dia.

Selain Kasongan, perajin juga tak malu belajar dari proses pembuatan gerabah dari Jakarta. Khususnya, dalam hal teknologi pembuatan yang sudah menggunakan beberapa peralatan modern. "Di Jakarta, gerabahnya sudah dibakar menggunakan oven. Bahan bakarnya gas, tidak seperti di sini yang masih menggunakan kayu bakar," jelas dia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved